Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kendala dalam implementasi layanan BK berbasis multikultural di SMAN 1 Jayapura, Papua, dengan fokus pada aspek kompetensi konselor, hambatan teknis, dan dukungan kebijakan sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian dipilih secara purposive dengan mempertimbangkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dengan delaman informan, yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dua guru BK, dua guru mata pelajaran, dan 2 siswa (dengan latar etnis dan agama yang beragam). Selain itu melakukan observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Untuk menjamin keabsahan data, digunakan teknik kredibilitas melalui perpanjangan pengamatan, trianggulasi sumber dan teknik, diskusi teman sejawat, dan member checking. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah belum memiliki program layanan BK multikultural yang tertulis dan terstruktur. Praktik multikultural yang ada masih bersifat implisit dan belum menjadi bagian integral dari layanan konseling. Tiga kendala utama yang teridentifikasi meliputi: (1) keterbatasan pemahaman guru BK terhadap konsep dan strategi konseling multikultural; (2) minimnya dukungan manajerial terkait sarana, alokasi waktu, dan kebijakan pendukung; serta (3) rendahnya keterlibatan orang tua dan pemangku kepentingan eksternal. Temuan ini mengindikasikan perlunya pengembangan model layanan BK berbasis institusi yang mengintegrasikan perspektif multikultural secara sistemik. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada ruang lingkup lokasi tunggal dan keterlibatan terbatas dari pihak eksternal, sehingga disarankan adanya penelitian lanjutan dengan cakupan dan partisipasi yang lebih luas.
Copyrights © 2025