Kelarutan yang rendah menjadi masalah pada lebih dari 40% obat, khususnya BCS Kelas II seperti Piroksikam, Kuersetin, Albendazol, dan Pirimetamin, sehingga membatasi bioavailabilitas dan efektivitas terapi. Tujuan tinjauan sistematis ini adalah menganalisis modifikasi fisika, yaitu pembentukan kristal multikomponen atau cocrystal, sebagai strategi peningkatan kelarutan dan disolusi obat. Penelusuran literatur dilakukan melalui Google Scholar dan ScienceDirect yang menghasilkan lima artikel utama yang relevan, dengan fokus pada cocrystal Piroksikam-Nikotinamida, Kuersetin-Asam Glikolat, Albendazol-Asam Malat, dan Pirimetamin-Asam Fumarat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan cocrystal berhasil mengubah karakteristik fisikokimia obat, ditandai dengan perubahan titik lebur, pergeseran spektrum FTIR, dan terbentuknya fase padat baru (analisis XRPD/PXRD). Secara signifikan, teknik ini meningkatkan kelarutan obat dengan kelarutan rendah (misalnya, Albendazol meningkat hingga 115 kali lipat dalam air) dan laju disolusi. Teknik cocrystalisasi terbukti sangat efektif dan menjanjikan, terutama dengan pemilihan koformer hidrofilik yang tepat, untuk mengatasi masalah kelarutan dan bioavailabilitas obat BCS Kelas II.
Copyrights © 2025