Penelitian ini mengkaji peran budaya cangkruk dan kegiatan ngopi informal dalam memperkuat manajemen publik serta pelayanan masyarakat di tingkat komunitas, dengan fokus pada RW 06 Desa Sumput, Kabupaten Sidoarjo. Pengelolaan pelayanan publik di tingkat akar rumput kerap menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kapasitas kelembagaan, ketiadaan prosedur operasional baku, dan ketidakmerataan kualitas layanan antar lingkungan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penerapan pendekatan manajerial yang lebih adaptif dan selaras dengan konteks sosial budaya lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi praktik sosial sehari-hari, pola interaksi masyarakat, serta mekanisme pengelolaan pelayanan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan pengurus lingkungan, dan penelusuran dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya cangkruk dan kegiatan ngopi tidak sekadar menjadi aktivitas sosial, melainkan juga berfungsi sebagai ruang tata kelola informal yang memperkuat komunikasi antara warga dan pengurus. Praktik ini meningkatkan responsivitas, akuntabilitas, dan aksesibilitas layanan melalui partisipasi aktif masyarakat. Meskipun tingkat digitalisasi masih terbatas akibat rendahnya literasi digital, layanan tatap muka tetap berjalan efektif dan berkontribusi pada penguatan kepercayaan sosial. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa praktik budaya lokal dapat menjadi instrumen strategis dalam mewujudkan manajemen pelayanan publik yang partisipatif, adaptif, dan berkelanjutan di tingkat komunitas. Kata Kunci: Rukun Waga, Cangkruk, Egaliter, Manajemen Publik, Tata Kelola, Kolaborasi
Copyrights © 2026