Krisis eksistensial dan spiritual merupakan persoalan fundamental yang dihadapi generasi muda modern di tengah dominasi rasionalisme, idealisme, dan realitas digital, yang cenderung mengikis subjektivitas dan eksistensi otentik. Fenomena ini menyebabkan individu merasa terasing, kehilangan makna, dan rentan terjebak dalam gaya hidup estetik yang dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kembali Filsafat Eksistensialisme Religius Søren Aabye Kierkegaard sebagai kerangka teoretis untuk mengatasi tantangan tersebut. Kajian ini berfokus pada analisis pemikiran pokok Kierkegaard mengenai kebebasan individu, tiga tahapan eksistensi (estetik, etik, dan religius), dan konsep "lompatan iman" (leap of faith), yang secara unik menempatkan Tuhan sebagai pusat eksistensi sejati. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemikiran Kierkegaard, yang mengedepankan eksistensi individu yang konkret, bebas, dan bertanggung jawab, menawarkan solusi fundamental untuk mengatasi krisis spiritualitas di era digital. Kontribusi utama penelitian ini adalah menyoroti relevansi abadi filsafat Kierkegaard dalam mempromosikan pemahaman mendalam tentang subjektivitas dan mendorong individu modern untuk mencapai kehidupan spiritual yang otentik di tengah kompleksitas dunia kontemporer.
Copyrights © 2025