Lara merupakan salah satu jenis penyakit langka yang tergolong sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi dari penyakit sebelumnya, seperti bisul, cacar, maupun luka pada bagian tubuh lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan masyarakat terhadap tradisi pengobatan Lara serta untuk mengetahui proses pengobatan Lara pada masyarakat di Desa Walelei, Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengetahuan masyarakat, Lara dipahami sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi daripenyakit lain yang sebelumnya telah ada. Penyakit ini muncul apabila luka atau penyakit awal tidak ditangani dengan baik dan tidak kunjung sembuh. Lara juga memiliki beberapa jenis, di antaranya: Lara ifi (api), Lara oe (air), dan Lara wandoke. Dalam pengobatan tradisional, prosespenyembuhan Lara melalui beberapa tahapan, yaitu: Pengumpulan bahan-bahan berupa air di dalam gelas, daun kapuk (kadhawa), daun popasa,daun rincik bumi (kambea moloku), daun turi (kambadhawa), dan biji labu tua. Daun kapuk (kadhawa) dikucek dengan sedikit air lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Daun popasa, daun rincik bumi (kambea moloku), dan daun turi (kambadhawa) dicampur dengan sedikit air,kemudian disaring dan diminum oleh pasien. Pasien juga mengonsumsi biji labu tua yang telah dikupas kulitnya, yang dapat dilakukan secara mandiri setelah proses pengobatan. Selain itu, pasien juga meminum air yang telah dibacakan mantra, yang dalam tradisi disebut sebagai air kaferebua
Copyrights © 2025