Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Budaya Kepatuhan Penderita Tuberkulosis Terhadap Resep Dokter di Kota Kendari Agus Rihu; La Ode Marhini
Formosa Journal of Applied Sciences Vol. 1 No. 2 (2022): July 2022
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.851 KB) | DOI: 10.55927/fjas.v1i2.818

Abstract

Penelitian ini bertujuan 1) untuk menganalisis bentuk-bentuk budaya kepatuhan terhadap resep dokter pada pasien pengidap penyakit Tuberculosis di Kota Kendari, 2) Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi budaya kepatuhan terhadap resep dokter pada pasien pengidap penyakit Tuberculosis di Kota Kendari. Informan penelitian ini adalah dokter, perawat, pasien dan keluarga pasien pengidap penyakit Tuberculosis yang ditentukan secara sengaja (Purposive Sampling). Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori interaksional simbolik oleh Herbert Blumer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Bentuk-bentuk budaya kepatuhan terhadap resep dokter pada pasien pengidap penyakit Tuberculosis (TBC) di Kota Kendari meliputi: patuh sesuai anjuran ketepatan dosis, patuh sesuai anjuran ketepatan waktu, patuh sesuai anjuran ketepatan kontrol rutin dan patuh menghindari pantangan. Apabila pasien tidak membudayakan diri untuk mengikuti resep sesuai anjuran dokter maka penyakit Tuberculosis yang dialami akan semakin parah sehingga dapat memberikan efek pengobatan yang lebih lama. 2) Budaya kepatuhan terhadap resep dokter pada pasien pengidap penyakit Tuberculosis di Kota Kendari dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi tingkat kesadaran pasien, tingkat kepercayaan pasien terhadap pengobatan tradisional, dan pengetahuan pasien terhadap penyakit Tuberculosis, faktor eksternal meliputi perilaku pelayanan kesehatan, dukungan keluarga  dan kondisi ekonomi.
Katandu: An Alternative Treatment And Traditional Health Maintenance Of The Muna Ethnic Group Through Bamboo Cupping (A Study In Tongkuno Selatan District, Muna Regency) Agus Rihu; La Ode Marhini
Formosa Journal of Applied Sciences Vol. 2 No. 1 (2023): January, 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/fjas.v2i1.2830

Abstract

This research aims to analyze the stages and processes of Katandu alternative therapy for treatment and traditional health maintenance of the Muna ethnic group through bamboo cupping.  The informants of this research are cupping practitioners and patients who use cupping services determined by purposive sampling. The analysis technique used is qualitative descriptive analysis using the symbolic interaction theory by Herbert Blumer. The results of the research show that in the process of implementing alternative therapy for treatment and health maintenance through Katandu (bamboo cupping) on the Muna ethnic group (Study in Tongkuno Selatan District, Muna Regency) consists of:  A. Preparation stage: a) Preparation of tools and equipment for sterilization and supporting tools such as: 1) Whetstone, 2) Cloth, 3) firewood and matches, b) Preparation of main tools and equipment during cupping ( katandu ) : 1) Bamboo cup (Lobu) as a tool for drawing out impure blood from the surface of the skin, 2) knife for cutting or incising the skin, 3) Water, 4) Stove, 5) Corn husk. c) Tools and equipment after cupping ( katandu ) consist of: 1) Ash, 2) Tissue. B. Cupping treatment stage includes: 1) Identifying complaints for cupping service users, 2) Determining points that will be the object of cupping, 3) Process of drawing out or removing impure blood. C. Conclusion stage includes: 1) dirty blood burial, 2) Katandu practitioner will pray for the patient's healing and health, 3) The patient will shake hands with the practitioner and give a certain amount of money as a token of gratitude for the service and healthcare provided.
Eksistensi Karanu Ghule pada Masyarakat Desa Lakarama Kecamatan Towea Kabupaten Muna Saldin S; Rahmat Sewa Suraya; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 1 (2024): Volume 7 No 1, Juni 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i1.2811

Abstract

Karanu ghule is a tradition that has been carried out for generations by the people of Lakarama Village because it is a tradition that is considered important and accepted by people who currently adhere to animistic beliefs. According to Karanu ghule, there was no objection from the local community because whatever tradition is considered for the community, it is mandatory to carry it out. The purpose of this study was to find out the process of implementing the Karanu ghule Mantra in the Lakarama village community, the function of the Karanu Ghule Mantra and the symbolic meaning of the Karanu ghule Mantra in the people of Lakarama Village, Towea District, Muna Regency. The method used in this research is Qualitative Research. Data collection was carried out using observation techniques (observation), in-depth interviews and documentation. Informat determination technique in this study used a purposive sampling technique. Data were analyzed using the following techniques: data collection, data reduction, data presentation and conclusion. The results of the study show that in the Karanu ghule Process there are several stages, namely, the preparatory stage, the implementing stage, the function of Religion functions as a relationship between God and humans so as to gain experience by using the ancestral personality which is described metaphorically in religious norms, rituals, and myths , and the function of protection is to avoid theft in the garden when leaving the garden to carry out activities outside or while traveling far away, while the symbolic meaning, Symbolic Meaning of Patida (Gembilang) Symbolic Meaning of Ghunteli (Egg) Symbolic Meaning of Ghue (Rattan) Symbolic Meaning of Botolo bhe oeno (bottle filled with water).
Revitalisation Function of The Kasalasa Tradition in The Moving Farming of The Muna Tribe as A Sustainable Agriculture Model and Conservation of Natural Resources in Muna District Rahmat Sewa Suraya; La Ode Alwi; Zulfa Zulfa; Agus Rihu
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 13 No 2 (2024): Volume 13 Issue 2, June 2024
Publisher : Laboratory of Anthropology Department of Cultural Science Faculty of Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v13i2.2617

Abstract

This article discusses the local wisdom of the Muna people, which is reflected in the Kasalasa tradition, a ritual performed before starting agricultural activities. This ritual begins with clearing new land, planting crops, and showing the close relationship between agricultural activities and natural resource conservation. An ethnographic approach was used in this research to understand the farming culture of the Muna people, especially in the context of shifting cultivation. The data presented were qualitative and analysed descriptively to facilitate understanding. The results of the study showed that the Kasalasa Tradition has many values and functions, including norms and customs that are adhered to by farmers as a guide in farming. Revitalising this tradition can become a reference for the Muna people and society in general in supporting sustainable agriculture while still paying attention to the sustainability of natural resources. Maintaining local wisdom, such as the Kasalasa tradition, is essential to ensuring that agricultural practices are sustainable not only from an economic perspective but also from an environmental and socio-cultural one. By strengthening the values and norms contained in this tradition, people can develop agricultural systems that are environmentally friendly and sustainable for the future.
Makna Ungkapan Adat Melamar dalam Proses Menikah (Fenagho Tungguno Karete) pada Masyarakat Muna di Desa Katobu Kecamatan Wadaga Kabupaten Muna Barat Rahmat Saban; Samsul Samsul; La Ode Marhini; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 7 No 2 (2024): Volume 7 No 2, Desember 2024
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/lisani.v7i2.2982

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna ungkapan adat melamar dalam proses pernikahan (feenagho tungguno karete) pada masyarakat Desa Katobu, Kecamatan Wadaga, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini secara khusus mendeskripsikan ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam adat melamar serta makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, yaitu memilih informan yang dianggap mengetahui secara mendalam adat melamar. Analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat melamar dalam masyarakat Muna dikenal dengan istilah feenagho tungguno karete, yang secara harfiah berarti "menanyakan penjaga pekarangan." Proses penyampaian adat ini dilakukan dalam forum atau pertemuan adat menggunakan bahasa Muna antara delegasi pihak pelamar dan pihak yang dilamar. Adat ini memiliki makna simbolik, di mana kata tungguno menyimbolkan seseorang yang menjaga, merawat, atau mengikat/melamar, sedangkan karete menyimbolkan pekarangan tempat bunga berada, yang menjadi simbol seorang gadis. Proses adat melamar terdiri dari tiga tahapan, yaitu musyawarah (rompu), membawa janji (deowa too), dan melamar secara resmi (fofeena).
Tradisi Pengobatan Lara pada Masyarakat Desa Walelei Kecamatan Barangka Kabupaten Muna Barat Muhamad Hidayat; Rahmat Sewa Suraya; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/np119n54

Abstract

Lara merupakan salah satu jenis penyakit langka yang tergolong sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi dari penyakit sebelumnya, seperti bisul, cacar, maupun luka pada bagian tubuh lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengetahuan masyarakat terhadap tradisi pengobatan Lara serta untuk mengetahui proses pengobatan Lara pada masyarakat di Desa Walelei, Kecamatan Barangka, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam pengetahuan masyarakat, Lara dipahami sebagai penyakit lanjutan atau komplikasi daripenyakit lain yang sebelumnya telah ada. Penyakit ini muncul apabila luka atau penyakit awal tidak ditangani dengan baik dan tidak kunjung sembuh. Lara juga memiliki beberapa jenis, di antaranya: Lara ifi (api), Lara oe (air), dan Lara wandoke. Dalam pengobatan tradisional, prosespenyembuhan Lara melalui beberapa tahapan, yaitu: Pengumpulan bahan-bahan berupa air di dalam gelas, daun kapuk (kadhawa), daun popasa,daun rincik bumi (kambea moloku), daun turi (kambadhawa), dan biji labu tua. Daun kapuk (kadhawa) dikucek dengan sedikit air lalu ditempelkan pada bagian tubuh yang sakit. Daun popasa, daun rincik bumi (kambea moloku), dan daun turi (kambadhawa) dicampur dengan sedikit air,kemudian disaring dan diminum oleh pasien. Pasien juga mengonsumsi biji labu tua yang telah dikupas kulitnya, yang dapat dilakukan secara mandiri setelah proses pengobatan. Selain itu, pasien juga meminum air yang telah dibacakan mantra, yang dalam tradisi disebut sebagai air kaferebua
Praktik Pengobatan Tradisional Monggeha Sinalaki (Membuang Kesalahan) Pada Suku Tolaki di Desa Bungguosu Kecamatan Lembo Kabupaten Konawe Utara Riska; Abdul Alim; Agus Rihu
LISANI: Jurnal Kelisanan, Sastra, dan Budaya Vol 8 No 1 (2025): Volume 8 No 1, Juni 2025
Publisher : Jurusan Tradisi Lisan, Fakultas Ilmu Budaya, Univeritas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/xrrah891

Abstract

Monggeha Sinalaki adalah pengobatan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Tolaki dengan bantuan supranatural yang disebut Mbu’owai (dukun) yang menggunakan air sebagai media pelaksanaan prosesi pengobatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana praktik dan bentuk pewarisan pengobatan tradisional Monggeha Sinalaki. Dalam penelitian ini menggunakan teori/konsep pengobatan tradisional dan pewarisan tradisional dengan jenis penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi/pengamatan, wawancara dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa proses pengobatan Monggeha Sinalaki terdiri dari tiga tahapan yaitu tahapan persiapan, sebelum pengobatan Monggeha Sinalaki dilakukan, pihak keluarga pasien terlebih dahulu mengunjungi rumah dukun (Mbu’owai) untuk membicarakan atau memberitahu perihal penyakit yang di derita oleh pasien dan mereka mulai menanyakan apakah harus dibawa di rumah dukun atau di rumah pasien saja untuk pengobatan Monggeha Sinalaki, pelaksanaan yakni dimana terlebih dahulu dukun (Mbu’owai) menyentuh dada dan perut si pasien dengan menggunakan piring yang telah berisikan air dan uang logam, dan tahapan ketiga yaitu tahap akhir yaitu dukun (Mbu’owai) menyentuh ke dua telapak kaki sipasien sambil membacakan mantra dan si pasien meminum air yang sudah dibacakan mantra oleh dukun. Pola pewarisan dalampengobatan Monggeha Sinalaki yaitu dengan cara nonformal, yakni melalui keturunan dan dengan cara berguru.