Studi ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan mitigasi kebakaran hutan dan lahan dari tingkat pemangku kepentingan hingga tingkat lokal menggunakan perspektif gender, dan untuk menguji inklusivitas kebijakan tersebut terhadap perempuan dan kelompok rentan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan memanfaatkan wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Analisis menerapkan Kerangka Kerja Analitik Gender Harvard untuk memetakan peran, akses, dan kontrol berbasis gender, dilengkapi dengan teori demokrasi agonistik Chantal Mouffe untuk menguji relasi kekuasaan dan praktik eksklusif dalam kebijakan mitigasi kebakaran. Informan meliputi lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat lokal di Kelurahan Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya. Temuan menunjukkan bahwa mitigasi kebakaran hutan dan lahan masih didominasi oleh pendekatan teknokratis dan netral gender. Laki-laki cenderung mendominasi aktivitas teknis dan proses pengambilan keputusan, sementara perempuan lebih terlibat dalam peran domestik, sosial, dan ekonomi pendukung. Meskipun perempuan memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan sosial-ekologis, kontribusi ini tidak diakui secara formal dalam struktur kebijakan dan kelembagaan. Analisis demokrasi agonistik mengungkapkan bahwa kondisi ini dibentuk oleh relasi kekuasaan dan hegemoni kebijakan yang membatasi artikulasi politik perempuan. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan mitigasi kebakaran berkelanjutan membutuhkan integrasi kapasitas teknis, pemberdayaan sosial, dan pengakuan kepentingan yang saling bertentangan sebagai bagian inheren dari tata kelola demokratis. Model Gender Harvard terintegrasi yang dikembangkan dalam penelitian ini menawarkan kerangka kerja potensial untuk mempromosikan kebijakan mitigasi kebakaran hutan dan lahan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan di tingkat lokal
Copyrights © 2025