Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Local Audience’s Motivations who Watch TV Program that Use Local Language (Qualitative and Desciptive Research on the Audience of TV Program Kesah Budaya TVRI Central Kalimantan) Pebrianti, Anisa
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Publisher : STISIPOL Raja Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56552/jisipol.v2i2.35

Abstract

The aim of this research is to find the motivations of audience who watched TV Program that use the local languageTVRI Kalteng as a local TV station in Central Kalimantan had an educative and entertaining program called Kesah Budaya or Keba. This program showed various informations about Central Kalimantan society and culture in Dayak Ngaju. Keba showed the uniqueness of Central Kalimantan that could be seen through the hosts, the language, the clothes, etc.Keba was the only talkshow presented by TVRI Kalteng that used local language during its show. The qualitative study with descriptive approach was guided by uses and gratifications theory to understand this research. Data were gathered using in-depth interview and observation. Those were analyzed by Miles and Huberman analysis technique.The study found thatthe local audience in PalangkaRaya had been motivated to watch the TV show Keba which was delivered in a local language due to the diversity of information about Central Kalimantan culture and the usage of the local language during the show. In addition, respondents watched the show since they concerned and interested in their local culture which is consideredas their true identity.
Politik Gambut: Penyebab Kebakaran Gambut Di Kalimantan Tengah Dalam Sudut Pandang Komunitas Politik Silalahi, Juli Natalia; Saragih, Osi Karina; Pebrianti, Anisa; Hutasoit, Jenni; Sugiarti, Sugiarti
EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI ) Vol 7 No 1 (2024): Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/es.v7i1.2546

Abstract

Kebakaran gambut dapat menyebabkan banyak kerugian, salah satunya dampak ekologi. Kerusakan fungsi ekologis gambut ini dapat dirasakan hingga jauh setelah kebakaran selesai. Seperti halnya, setelah kebakaran hutan dan lahan gambut di tahun 2015, dilaporkan terjadinya pencemaran air Sungai Sebangau yang airnya menjadi lima kali lipat lebih asam. Dampak juga terjadi pada Kesehatan, iklim, ekonomi, sosial. Beragam upaya dilakukan untuk merestorasi dan melindungi gambut, seperti pasca kebakaran lahan gambut yang hebat tahun 2015 sehingga di tahun 2016 pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut serta membentuk Badan Restorasi Gambut. Namun kebakaran gambut masih terjadi, bahkan di Tahun 2019 kebakaran gambut membakar seluas 711.927,30 Hektaree lahan. Menurut Purnomo, dkk (2019) bahwa pada tahun 2015, sebaran titik panas di Sumatra dan Kalimantan menujukkan bahwa titik api tercatat di 45% area perusahaan (13% perkebunan kelapa sawit, 27% perkebunan kayu pulp, 5% konsesi penebangan kayu, 2% area tumpang tindih), dan 53% berada di area di luar konsesi perusahaan (konsesi non-perusahaan yaitu masyarakat dan pemerintah). Hal ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi pada wilayah konsesi perusahaan, sedangkan kawasan konservasi 31%, dan masyarakat hanya 22%. Untuk itu, penelitian ini mencoba menganalisis apa sesungguhnya penyebab kebakaran gambut di Kalimantan Tengah, khususnya di Kota Palangka Raya sebab sampai saat ini sejumlah 304 titik panas hingga agustus 2023 ini masih ditemukan. Mengapa masyarakat yang selalu dianggap penyumbang kebakaran gambut, padahal titip panas menunjukkan persentase cukup tinggi di wilayah area perusahaan. Untuk itu, penelitian ini akan menggali kedalaman data dari sudut pandang komunitas politik di Kalimantan Tengah. Komunitas politik akan membongkar ruang tersembunyi dari publik terkait kebakaran gambut di Kalimantan Tengah. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif digunakan sebagai cara untuk membantu menemukan jawaban atas pertanyaan penelitian, sementara itu pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Model analisis kualitatif yang ditempuh dalam penelitian ini adalah model analisis penelitian yang mengikuti model analisis dasar dari penelitian kualitatif yaitu analisis induktif. Dalam model analisis yang kualitatif ini, menggunakan analisis alur mengalir (flow analysis) yang memadukan semua tahapan mulai pengumpulan data, kategorisasi, mempolakan konsep atau tema dan penstrukturan serta sajian dalam cakupan kegiatan analisis, sehingga analisis berlangsung sepanjang tahapan kegiatan penelitian. luaran utama dari penelitian ini adalah publikasi artikel pada jurnal nasional dan terdaftar Hak Kekayaan Intelektual dalam bentuk hak cipta sebagai luaran tambahan.
Culture Shock dan Adaptasi Budaya Dosen CPNS Milenial di Universitas Palangka Raya Pebrianti, Anisa
Jurnal Nomosleca Vol. 10 No. 2 (2024): Oktober, 2024
Publisher : Universitas Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/nomosleca.v10i2.14372

Abstract

Palangka Raya University is one of the formation locations that is quite popular with candidates civil servant (CPNS) lecturers from outside the Central Kalimantan area. This research will observe the phenomenon of culture shock and lecturer adaptation Millennial CPNS from the Faculty of Social and Political Sciences, Palangka Raya University who come from outside the region will live and work long term in new placements. The new work placement location will certainly have various differences from their original location. This research uses a descriptive qualitative approach to interpret a phenomenon, data collection techniques using interview, observation and documentation techniques. Then it will be analyzed using four phases culture shock. Through this research, researchers found several results for the stages culture shock experienced and how to adapt to deal with it culture shock namely openness to getting to know culture and language, being able to understand the work environment, making social approaches with colleagues and the desire to adapt to local culture.
Analisis Analisis Integrated Marketing Communication (IMC) Pada Instagram Maskapai Pelita Air: Analisis Integrated Marketing Communication (IMC) Pada Instagram Maskapai Pelita Air Pebrianti, Anisa; Sekar Arum Nuswantari
Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Sosial Politik Vol. 2 No. 2 (2024): Oktober - Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jiksp.v2i2.1945

Abstract

Kajian ini muncul untuk menguraikan bagaimana Integrated Marketing Communication (IMC) yang dilaksanakan oleh brand maskapai Pelita Air yang tergolong baru berkiprah pada jasa transportasi udara di Indonesia. Meskipun tergolong maskapai yang baru bersaing dipenerbangan domestik, Pelita Air mampu dikenal oleh masyarakat dengan sering muncul dipromosikan melalui instagram para penumpang yang telah menggunakan jasa brand tersebut. Penumpang maskapai Pelita Air memberikan review pengalaman yang cukup positif terkait Pelita Air sebagai maskapai dengan harga segmentasi medium, tepat waktu dan fasilitas pesawat yang nyaman. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan netnografi mengumpulkan data-data dari suatu media sosial. Tujuan dari penelitian ini ingin mengkaji dan memahami bagaimana komunikasi pemasaran terpadu (IMC) yang dilakukan oleh maskapai pelita air sebagai salah satu brand baru dalam dunia penerbangan di Indonesia. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi menggunakan media internet dan literasi lain yang berkaitan dengan IMC. Keywords: Brand, IMC, Maskapai, New Media
Penguatan Kapasitas Sosial dan Pendampingan Kewirausahaan Anggota Koperasi Merah Putih Kota Palangka Raya melalui Pelatihan Pengolahan Abon Ikan Gabus Kaharap, Yorgen; Elia, Andrie; Rusmanto, Joni; Pitoyo, Dhanu; Sontoe; Pebrianti, Anisa; Anam, Syaeful; Saragih, Osi Karina; Damayanti, Elia
Journal of Community Development Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i2.1769

Abstract

Koperasi Merah Putih merupakan program strategis nasional yang diarahkan untuk memperkuat pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan. Permasalahan utama mitra adalah rendahnya kapasitas organisasi dan kepemimpinan sosial pengurus, terbatasnya keterampilan pengolahan produk ikan, serta belum adanya produk unggulan bernilai tambah yang dapat dikembangkan sebagai usaha koperasi. Kegiatan pengabdian ini merespons masalah tersebut melalui pelatihan terpadu pengolahan abon ikan gabus yang dikombinasikan dengan penguatan kapasitas sosial, pelatihan desain logo dan kemasan, pemasaran digital berbasis media sosial, serta sosialisasi sertifikasi halal. Intervensi dilaksanakan bersama 40 peserta yang terdiri atas 15 anggota koperasi, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Output utama kegiatan meliputi terbentuknya kelompok belajar usaha abon, produk abon ikan gabus siap jual sebanyak [N_kemasan] kemasan (@ [berat_gram] gram), serta peningkatan rata-rata skor pemahaman teknis dari [skor_pre] menjadi [skor_post]. Secara substantif, kegiatan ini berdampak pada penguatan kapasitas sosial anggota koperasi, meningkatnya kepercayaan diri untuk memulai usaha rumah tangga, serta posisi koperasi sebagai pusat pembelajaran kewirausahaan lokal. Program ini sekaligus mendukung pencapaian SDG 2 (Zero Hunger) melalui pemanfaatan sumber daya pangan lokal, dan SDG 5 (Gender Equality) melalui keterlibatan aktif perempuan dalam rantai produksi dan pengelolaan usaha koperasi.
Pendidikan Politik Gambut Bagi Perempuan di Kelurahan Kalampangan Silalahi, Juli Natalia; Saragih, Osi Karina; Pebrianti, Anisa; Hutasoit, Jenni; Sugiarti, Sugiarti
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 4 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/mvssek93

Abstract

The main focus of this community service activity is to make Kalampangan women the key actors in environmental sustainability, particularly in the management of peatland agricultural products. The role of political education on peatland aims to provide Kalampangan women with information and knowledge about peatland issues (from a political peatland perspective) so that they can actively protect peatlands, manage them for economic value, and ensure environmental sustainability. Another benefit is to enable women to contribute and participate in discussions for decision-making related to natural resource management from a gender perspective. The community service method used in this activity consists of four stages. The first stage involves conducting a socialization session titled “Peatland and Women: Issues, Impacts, and Initiatives.” The second stage of this community service activity is to form the “Women Caring for Peatland” group. The third stage is the symbolic tree planting as a form of commitment to peatland preservation. The final stage is the evaluation, which aims to assess the impact of the activity on participants' knowledge and awareness, as well as identify the challenges faced in the future management of peatland.
Implementasi Karakter Handep Hapakat Pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dI SMPN 11 Palangka Raya Pebrianti, Anisa; Rusmanto, Joni; Adiwijaya, Saputra; Ulfaritha Lapalu, Ester Sonya; Sontoe, Sontoe; Anam, M. Syaeful; Saragih, Osi Karina; Kaharap, Yorgen; Damayanti, Elia; Silalahi, Juli Natalia
Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. 14 No. 1 (2026): EQUILIBRIUM : JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/d27x3188

Abstract

Implementation of strategic national policies at the school level often faces adaptation and acceptance challenges in local institutions, particularly in regions rich in local wisdom such as Central Kalimantan. This study was conducted to analyze the integration of the local wisdom value handep hapakat (cohesion and mutual assistance) within the Free Nutritious Meal Program (MBG) at SMPN 11 Palangka Raya. This background prompted a study focusing on the socio-cultural dimension of MBG, which has been effectively running for two months since September 1, 2025. The primary objective of the research was to analyze the implementation of handep hapakat, identify the roles of actors (teachers, students, parents) in the program's sustainability, and examine socio-cultural barriers. The study employed a descriptive qualitative approach with data collected through in-depth interviews with teachers and students. Thematic analysis was conducted using a sociological framework encompassing Solidarity (Durkheim), Inequality (Marx), and Habitus/Social Capital (Bourdieu). The main findings indicate that Handep Hapakat serves as a catalyst for mechanical solidarity (Durkheim). This is evidenced by students' spontaneous initiative in logistics mutual cooperation and the collective meal as a cohesion-strengthening social ritual. Teachers play a central role as guarantors of equitable distribution, ensuring consistent and fair portions, thereby effectively mitigating the risk of access inequality (Marx) within the school environment. Although a clash of taste habitus (menu boredom) was observed, the Handep Hapakat value is capitalized as Social Capital (Bourdieu), realized through the mechanism of sharing leftover food (anti-waste). The active role of teachers in shaping responsible habitus is also crucial. It is concluded that the success of the MBG program at SMPN 11 Palangka Raya relies on the harmonious integration between national policy and local values. The implementation supported by Handep Hapakat yields a Sustainable Implementation Model that not only achieves nutritional goals but significantly reinforces students' social character, collective responsibility, and social capital. The scientific contribution of this research confirms the important role of local culture in the adaptation and effectiveness of public policies at the grassroots level.
Inovasi Model Harvard Gender Untuk Mitigasi KARHUTLA Yang Inklusif Dan Berkelanjutan Analisis Dari Tingkat Stakeholder Hingga Tapak Di Kota Palangka Raya Silalahi, Juli Natalia; Saragih, Osi Karina; Pebrianti, Anisa; Sirait, Mahmudin
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 9, No 4 (2025): Jurnal Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v9i4.2025.2554-2570

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan mitigasi kebakaran hutan dan lahan dari tingkat pemangku kepentingan hingga tingkat lokal menggunakan perspektif gender, dan untuk menguji inklusivitas kebijakan tersebut terhadap perempuan dan kelompok rentan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan memanfaatkan wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen sebagai teknik pengumpulan data. Analisis menerapkan Kerangka Kerja Analitik Gender Harvard untuk memetakan peran, akses, dan kontrol berbasis gender, dilengkapi dengan teori demokrasi agonistik Chantal Mouffe untuk menguji relasi kekuasaan dan praktik eksklusif dalam kebijakan mitigasi kebakaran. Informan meliputi lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat lokal di Kelurahan Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya. Temuan menunjukkan bahwa mitigasi kebakaran hutan dan lahan masih didominasi oleh pendekatan teknokratis dan netral gender. Laki-laki cenderung mendominasi aktivitas teknis dan proses pengambilan keputusan, sementara perempuan lebih terlibat dalam peran domestik, sosial, dan ekonomi pendukung. Meskipun perempuan memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan sosial-ekologis, kontribusi ini tidak diakui secara formal dalam struktur kebijakan dan kelembagaan. Analisis demokrasi agonistik mengungkapkan bahwa kondisi ini dibentuk oleh relasi kekuasaan dan hegemoni kebijakan yang membatasi artikulasi politik perempuan. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan mitigasi kebakaran berkelanjutan membutuhkan integrasi kapasitas teknis, pemberdayaan sosial, dan pengakuan kepentingan yang saling bertentangan sebagai bagian inheren dari tata kelola demokratis. Model Gender Harvard terintegrasi yang dikembangkan dalam penelitian ini menawarkan kerangka kerja potensial untuk mempromosikan kebijakan mitigasi kebakaran hutan dan lahan yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan di tingkat lokal