Pengrajin batu bata di Desa Telaga selama ini menghadapi rendahnya produktivitas akibat proses produksi konvensional yang memakan waktu 7–15 hari dan ketergantungan pada pembakaran. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi melalui inovasi campuran abu kayu akasia dan penerapan alat Teknologi Tepat Guna (TTG) pengolah adonan. Metode yang digunakan mencakup sosialisasi, pelatihan teknis, pendampingan manajerial, penerapan inovasi, dan evaluasi. Hasil menunjukkan peningkatan kuat tekan batu bata dari ±50 MPa menjadi 100 MPa, efisiensi produksi meningkat dari 10.000 menjadi 30.000 bata dalam 5 hari, sehingga omzet mitra naik hingga Rp 30.000.000 dengan profit meningkat 93%. Selain dampak teknis, kegiatan juga memperkuat aspek manajerial melalui pembukuan biaya produksi, perhitungan profit, serta pembagian dana usaha. Dampak sosial terlihat dari terciptanya lapangan kerja baru dan pengurangan polusi pembakaran. Kegiatan ini menyajikan kebaruan berupa formulasi aditif limbah kayu akasia yang mampu menghilangkan proses pembakaran serta mempersingkat waktu produksi secara signifikan.
Copyrights © 2025