Ekosistem mangrove memainkan peran penting dalam ketahanan pesisir, konservasi keanekaragaman hayati, dan penyerapan karbon. Namun, ekosistem ini menghadapi degradasi parah akibat aktivitas antropogenik seperti deforestasi, konversi lahan, dan eksploitasi yang tidak berkelanjutan. Studi ini menyelidiki status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove di Desa Buruk Bakul, Provinsi Riau, menggunakan metode RAPFISH (Rapid Appraisal for Fisheries) di lima dimensi: ekologis, ekonomi, dan sosial-budaya. Temuan penelitian ini mengungkapkan indeks keberlanjutan keseluruhan sebesar 45,3, mengkategorikan ekosistem sebagai "kurang berkelanjutan." Dimensi ekologi mendapatkan skor tertinggi (48,7), dikikuti dimensi sosial-budaya 44,7, sementara dimensi ekonomi adalah yang terlemah. (40,4). Atribut sensitif utama yang diidentifikasi meliputi: Pemasaran hasil mangrove, Serapan tenaga kerja local, Memiliki estetika, Akses masyarakat terhadap mangrove dan Ketersediaan aturan dan peran lembaga non-formal. Atribut-atribut ini berfungsi sebagai titik tumpu untuk meningkatkan keberlanjutan. Studi ini mengusulkan strategi terintegrasi yang berfokus pada penguatan ekonomi berbasis mangrove, peningkatan akses dan partisipasi masyarakat, dan penguatan kebijakan dan kelembagaan. Dengan menangani atribut-atribut sensitif ini, penelitian ini berkontribusi pada perumusan kebijakan holistik untuk konservasi mangrove yang berkelanjutan, memastikan kesehatan ekologi dan manfaat sosial-ekonomi bagi komunitas pesisir.
Copyrights © 2025