Penelitian ini mengkaji perspektif siswa sekolah dasar kelas tiga yang berpotensi disleksia dalam mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa asing di SD Negeri 1 Kaliuntu dan SD Negeri 1 Kampung Anyar. Dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tiga siswa dengan potensi disleksia dan tiga teman sebaya non-disleksia, penelitian ini menemukan bahwa siswa menghadapi hambatan dalam pengenalan huruf, pemahaman membaca, penulisan, ejaan, pemrosesan fonologis, serta persepsi auditori dan visual. Selain itu, ejekan dari teman sekelas memengaruhi aspek emosional mereka, meskipun beberapa siswa menunjukkan ketahanan. Teman sebaya non-disleksia cenderung memberikan bantuan, seperti membantu menulis atau membaca, namun juga melaporkan adanya bullying terkait kesulitan berbicara. Temuan ini mendukung teori tentang tantangan literasi pada disleksia dan dinamika sosial dalam pendidikan inklusif. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan pengajaran multisensori dan pelatihan kesadaran disleksia untuk meningkatkan pembelajaran yang inklusif.
Copyrights © 2026