Kawasan heritage memiliki peran penting dalam membentuk identitas kota serta mendukung aktivitas sosial dan budaya masyarakat. Namun, upaya revitalisasi kawasan heritage di banyak kota masih berfokus pada aspek fisik dan visual, sehingga kurang mampu menghidupkan ruang publik secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan pendekatan place-making dalam revitalisasi kawasan heritage di Kota Bengkulu. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, pemetaan aktivitas, wawancara semi-terstruktur, serta studi dokumentasi. Analisis dilakukan berdasarkan indikator place-making yang meliputi aksesibilitas, kenyamanan dan citra ruang, aktivitas dan fungsi, serta sosiabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip place-making telah diterapkan secara parsial, dengan kekuatan utama pada aspek citra dan identitas kawasan. Namun, aspek aksesibilitas, kenyamanan, keberagaman aktivitas, dan partisipasi masyarakat masih belum optimal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan place-making sebagai kerangka integratif untuk menciptakan revitalisasi kawasan heritage yang hidup, inklusif, dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026