Artikel ini menggambarkan tentang tiga tokoh tasawuf Islam yang krusial dalam penyucian jiwa, pembentukan karakter serta penghayatan spiritual kepada sang Pencipta, tasawuf sebagai warisan klasik dan juga memiliki peran yang signifikan dalam membangun peradaban Islam yang beretika dan beradab. Penelitian mengenai tiga tokoh sufi yang besar ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga memberikan kontribusi teoretis dan praktis untuk pengembangan Studi Islam kontemporer, terutama dalam aspek etika, pendidikan, dan peradaban Islam. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif melalui metode studi pustaka (library research). Pengumpulan data dilakukan dari sumber-sumber literatur primer, termasuk karya-karya asli para tokoh seperti Al-Hikam oleh Ibnu Athaillah, Ar-Ria’yah li Huquqillah oleh Al-Muhasibi, dan Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq oleh Abdul Qadir al-Jilani. Selain itu, juga digunakan literatur sekunder yang mencakup buku, jurnal, dan hasil penelitian ilmiah yang berkaitan. Bertujuan untuk mendeskripsikan secara komprehensif biografi dan pemikiran tiga tokoh tasawuf Islam klasik: Ibnu Athaillah, Al-Muhasibi, dan Abdul Qadir al-Jilani. Menganalisis kontribusi pemikiran mereka terhadap perkembangan tasawuf dan spiritualitas Islam. Mengkaji relevansi ajaran mereka dalam konteks modernitas Islam dan pembentukan peradaban Islam yang berkeadaban (civilized Islam). Relevansi ketiga tokoh ini nyata dalam arah pendidikan Islam modern yang humanistik, transendental, dan berkarakter, yang mampu menyeimbangkan rasionalitas dengan spiritualitas, serta pengetahuan dengan nilai-nilai moral ilahiah. Kesimpulan artikel ini adalah bahwa konsep tazkiyah al-nafs berfungsi sebagai dasar filosofis dan teologis yang kuat dalam pembentukan karakter Islami. Meskipun ketiganya memiliki pendekatan yang berbeda, mereka semua menekankan signifikansi penyucian jiwa sebagai pusat dari transformasi individu dan masyarakat
Copyrights © 2025