Melestarikan budaya lokal merupakan tantangan besar di era globalisasi, ketika gelombang modernisasi seringkali menggeser nilai-nilai tradisional. Batik Trusmi dari Cirebon, sebagai warisan budaya regional, memiliki nilai historis, ekonomi, dan sosial yang tinggi, namun menghadapi ancaman berupa menurunnya minat generasi muda dan persaingan dari produk tekstil modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan publik yang diterapkan oleh pemerintah daerah dalam melestarikan Trusmi Batik serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat implementasinya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen kebijakan. Hasil menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah menerapkan berbagai program, seperti pendirian pusat batik, pelatihan keterampilan, dan promosi budaya melalui festival, namun implementasinya masih terhambat oleh koordinasi antarlembaga yang kurang optimal dan partisipasi yang rendah dari generasi muda. Kesimpulannya, kebijakan publik dalam pelestarian Batik Trusmi telah memberikan dampak positif terhadap kesadaran budaya dan ekonomi lokal, namun diperlukan strategi keberlanjutan yang menekankan pendidikan budaya, inovasi produk, dan kolaborasi antara pemerintah, pengrajin, dan masyarakat agar Batik Trusmi tetap berkelanjutan di tengah tantangan modernisasi.
Copyrights © 2026