Putus cinta merupakan salah satu sumber stres interpersonal yang umum terjadi pada masa emerging adulthood. Stres yang dirasakan setelah breakup berpotensi memunculkan perilaku maladaptif, salah satunya emotional eating. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran perceived stress terhadap emotional eating pada emerging adulthood yang mengalami relationship break up. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 320 individu berusia 18–25 tahun yang pernah mengalami putus cinta, diperoleh melalui penyebaran kuesioner online. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah Perceived Stress Scale (PSS) dan Emotional Eating subscale dari Dutch Eating Behavior Questionnaire (DEBQ). Analisis data menggunakan korelasi Spearman dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara perceived stress dan emotional eating (ρ = 0.554; p < 0.001). Hasil regresi juga menunjukkan bahwa perceived stress berperan terhadap emotional eating dengan kontribusi sebesar 21,3%. Uji beda menunjukkan perbedaan pada beberapa karakteristik demografis seperti jenis kelamin, dampak emosional, perubahan berat badan, dukungan sosial, dan waktu terakhir putus cinta untuk variabel emotional eating. Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi stres yang dipersepsikan setelah breakup, semakin besar kecenderungan emerging adulthood melakukan emotional eating sebagai bentuk pelampiasan emosi negatif. Penelitian ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap regulasi emosi dan strategi koping adaptif pada individu yang mengalami putus cinta.
Copyrights © 2026