Guru Pendamping Khusus (GPK) memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, namun menghadapi tuntutan emosional yang tinggi dalam proses pendampingan peserta didik berkebutuhan khusus. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stres kerja dan kelelahan emosional apabila tidak diimbangi dengan kemampuan regulasi emosi yang adaptif. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan psikoedukasi regulasi emosi sebagai upaya promosi dan prevensi kesehatan mental pada GPK di sekolah inklusi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikoedukasi partisipatif. Subjek kegiatan adalah Guru Pendamping Khusus di SDIT dan SMPIT Insan Kamil Majalengka. Data diperoleh melalui observasi kegiatan, diskusi interaktif, refleksi peserta, serta praktik langsung teknik regulasi emosi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu memahami konsep regulasi emosi, mengidentifikasi pemicu emosi dalam konteks pekerjaan, serta mempraktikkan strategi regulasi emosi secara aplikatif, khususnya cognitive reappraisal dan teknik deep breathing. Psikoedukasi regulasi emosi berpotensi menjadi pendekatan promotif dan preventif yang relevan dalam mendukung kesehatan mental serta profesionalisme GPK di lingkungan sekolah inklusi.
Copyrights © 2026