Kekuasaan dan legitimasi merupakan dua konsep fundamental dalam kajian antropologi politik yang menentukan bagaimana struktur sosial, otoritas, dan praktik pemerintahan terbentuk serta dipertahankan. Topik ini penting untuk dibahas karena dinamika politik kontemporer, baik di level negara maupun komunitas lokal, memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bersumber dari institusi formal, tetapi juga dibangun melalui simbol, tradisi, dan norma budaya yang memengaruhi legitimasi. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan memahami relasi antara kekuasaan dan legitimasi dalam konteks masyarakat majemuk, di mana interaksi antarbudaya sering kali menciptakan bentuk otoritas yang hibrid. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana legitimasi kekuasaan terbentuk, dipertahankan, dan dinegosiasikan dalam ruang sosial yang sarat dengan nilai budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis wacana terhadap karya-karya antropologi politik, serta observasi terbatas pada praktik simbolik di komunitas lokal. Hasil sementara menunjukkan bahwa legitimasi tidak hanya berasal dari legalitas formal, tetapi juga dari pengakuan sosial yang dibangun melalui ritual, simbol, dan praktik budaya. Dengan demikian, antropologi politik memberikan kontribusi penting untuk memahami bahwa kekuasaan bersifat relasional dan legitimasi selalu bergantung pada konteks sosial-budaya yang melingkupinya.
Copyrights © 2026