Abstract. Glossolalia is often reduced either to a meaningless linguistic deviation or to a form of private mysticism, shielded from theological critique and public reflection. This article proposes an alternative reading of glossolalia as verbum ineffabile—an apophatic utterance and prophetic liturgical act that signals divine presence beyond the boundaries of representation. Through a conceptual hermeneutical approach, this study integrates Wittgenstein’s language games and forms of life, Derrida’s différance and trace, and Caputo’s theopoetics of the event. The finding reveals that glossolalia is not merely a linguistic anomaly, but an embodied, communal, and subversive act of faith that disrupts established semiotic and liturgical structures.Abstrak. Glossolalia sering direduksi menjadi deviasi linguistik yang dianggap tidak bermakna, atau mistisisme privat yang tertutup bagi kritik teologis dan refleksi publik. Artikel ini mengusulkan pembacaan alternatif atas glossolalia sebagai verbum ineffabile, yaitu suatu bentuk ujaran apofatik dan tindakan liturgis profetik yang menyatakan kehadiran ilahi di luar batas representasi. Melalui pendekatan hermeneutika konseptual, studi kualitatif ini mengintegrasikan permainan bahasa (language games) dan bentuk kehidupan (forms of life) dari Wittgenstein, konsep différance dan jejak (trace) dari Derrida, serta teopoetika peristiwa (theopoetics of the event) dari Caputo. Hasil kajian menunjukkan bahwa glossolalia bukan sekadar fenomena linguistik, melainkan praktik iman yang berinkarnasi secara komunal dan subversif terhadap struktur bahasa dan liturgi yang mapan.
Copyrights © 2026