Background: Madrasah Aliyah (MA) menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu pembelajaran dan sarana praktikum yang berdampak pada optimalisasi pembelajaran kimia. Pemanfaatan e-modul berbasis STEM dan etnosains menjadi alternatif inovatif, namun implementasinya masih memerlukan penguatan kompetensi guru. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kompetensi guru kimia MA yang tergabung dalam MGMP Kimia Jakarta melalui pelatihan dan pendampingan implementasi e-modul generasi keempat berbasis STEM-POGIL, STEM–Case Based Learning, dan etnosains pada materi laju reaksi, koloid, dan larutan penyangga. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui pendekatan blended learning berupa pelatihan, diskusi kelompok terarah (FGD), dan pendampingan kepada guru kimia Madrasah Aliyah yang tergabung dalam MGMP Kementerian Agama DKI Jakarta. Materi meliputi penggunaan e-modul kimia generasi keempat berbasis STEM-POGIL pada materi laju reaksi, STEM–Case Based Learning pada koloid, serta pendekatan etnosains pada larutan penyangga. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, serta kuesioner tertutup dan terbuka. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, ditandai dengan dominasi skor post-test sebesar 100% pada sebagian besar indikator dibandingkan pre-test yang masih berada pada rentang 60–70% pada beberapa butir, serta tidak adanya peserta dengan skor di bawah 60 pada akhir kegiatan. Tingkat kepuasan peserta juga berada pada kategori sangat baik (88,3–98,3%), terutama pada aspek penguasaan materi narasumber (98,3%) dan pemahaman materi (97,2%). Kesimpulan: Meskipun demikian, implementasi di sekolah masih menghadapi kendala infrastruktur dan kebijakan internal, sehingga diperlukan pendampingan berkelanjutan untuk memastikan penerapan e-modul berbasis STEM dan etnosains secara lebih merata dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026