Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses transformasi fakta sejarah menjadi nilai-nilai kehidupan melalui narasi pemandu museum dalam bingkai pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Fokus utama penelitian ini adalah mengeksplorasi bagaimana warisan budaya Sultan Hasanuddin dikomunikasikan oleh narator di Museum Balla Lompoa untuk membentuk identitas modern pengunjung. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap pemandu museum, dan analisis interaksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemandu museum berperan sebagai "narator bangga" yang tidak hanya menyampaikan data informatif berupa tanggal dan peristiwa secara akurat, tetapi juga membingkai cerita dengan emosi dan teknik bercerita yang menyentuh hati. Transformasi nilai terjadi ketika fakta sejarah mengenai perlawanan Sultan Hasanuddin terhadap VOC dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai kepemimpinan, harga diri, dan ketahanan budaya yang relevan bagi generasi muda. Penggunaan bahasa inklusif dan hubungan personal dalam narasi terbukti mampu mengubah persepsi pengunjung dari sekadar mendengar pelajaran sejarah menjadi pengalaman pembangunan jati diri yang membanggakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa museum berfungsi sebagai ruang dialog antargenerasi di mana sejarah diaktifkan kembali menjadi nilai kehidupan yang aplikatif. Implikasi penelitian ini merekomendasikan pengembangan modul pendidikan yang memanfaatkan narasi hidup dan penguatan teknik bercerita bagi pengelola situs warisan budaya sebagai kunci keberhasilan transmisi nilai-nilai kearifan lokal.
Copyrights © 2026