Kepemimpinan perempuan di Indonesia masih menghadapi hambatan struktural patriarki yang kuat, tercermin dari keterlibatan perempuan sebagai calon kepala daerah di Pilkada 2024 hanya mencapai 5,14%. Di tengah lanskap tersebut, Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara menyandang status triple minority di tengah ruang patriarki dan sosioreligius yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengkaji manifestasi gendered leadership dalam praktik kepemimpinan Sherly Tjoanda sebagai triple minority. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dari Creswell dengan teori Gendered Leadership dari Judy B. Rosener. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat indikator interactive leadership dalam gendered leadership memiliki keterikatan yang saling menguatkan. Encouraging participation termanifestasi melalui konsistensi dialogis, sementara sharing power and information dilakukan melalui transformasi media sosial dan transparansi anggaran. Enhancing others self-worth terbukti dalam kebijakan beasiswa, kesehatan, dan pemberdayaan UMKM, serta energizing others melalui narasi “Maluku Utara Bangkit”. Kepemimpinan interaktif ini berhasil meningkatkan IPM sebesar 0,95% dan tingkat kepuasan publik mencapai 85,1% dalam satu tahun. Disimpulkan bahwa Sherly Tjoanda berhasil menavigasi ruang patriarki dan sosioreligius melalui aksi nyata yang memperkuat legitimasi publiknya. Keberhasilan ini membuktikan bahwa latar belakang minoritas bukan penghalang bagi efektivitas kepemimpinan di ruang publik yang maskulin.
Copyrights © 2026