Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya operasional SPBU 24 jam yang menuntut karyawan bekerja pada shift malam, yang berpotensi menimbulkan kelelahan kerja akibat gangguan ritme sirkadian. Kelelahan kerja diketahui berdampak pada penurunan kinerja, keselamatan kerja, dan kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat kelelahan terhadap kinerja karyawan shift malam, serta menguji peran dukungan manajemen dan pengalaman kerja sebagai variabel moderasi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 110 responden operator SPBU di Kabupaten Rokan Hilir dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berbasis Swedish Occupational Fatigue Inventory (SOFI) dan Job Performance Scale, kemudian dianalisis menggunakan SEM-PLS melalui SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelelahan kerja berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja karyawan (β = -0,5638; p < 0,001). Dukungan manajemen dan pengalaman kerja memiliki pengaruh positif langsung terhadap kinerja, namun tidak berperan signifikan sebagai moderator. Dimensi kelelahan secara parsial tidak signifikan, kecuali physical discomfort yang mendekati signifikan. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa kelelahan kerja merupakan faktor dominan yang menurunkan kinerja, sehingga diperlukan intervensi manajerial yang efektif untuk mengelola kelelahan dan meningkatkan produktivitas karyawan shift malam.
Copyrights © 2026