Penelitian ini menjawab hipotesis bahwa latihan chase down dan sudden death berpengaruh terhadap peningkatan hasil dribbling pemain sepak bola Sebubuk Football Club Taliwang. Masalah utama penelitian berangkat dari masih rendahnya kemampuan pemain mempertahankan penguasaan bola ketika menggiring, khususnya saat menghadapi tekanan lawan dan perubahan ruang bermain. Penelitian menggunakan pendekatan eksperimen dengan rancangan pretest-posttest pada dua kelompok perlakuan. Sebanyak 22 pemain aktif dibagi menjadi kelompok chase down (n = 11) dan kelompok sudden death (n = 11). Instrumen penelitian berupa tes menggiring bola dengan catatan waktu, sedangkan perlakuan diberikan selama enam minggu dengan frekuensi tiga kali per minggu. Data dianalisis menggunakan paired sample t-test pada taraf signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan bahwa kelompok chase down mengalami penurunan rata-rata waktu dari 11,1064 detik menjadi 11,0773 detik, dengan nilai t = 4,891 dan p = 0,001. Kelompok sudden death juga mengalami penurunan rata-rata waktu dari 10,7373 detik menjadi 10,7018 detik, dengan nilai t = 3,180 dan p = 0,010. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua model latihan efektif meningkatkan hasil dribbling, namun pola peningkatan sudden death sedikit lebih besar pada selisih rata-rata, sedangkan chase down menunjukkan konsistensi perubahan yang kuat. Secara praktis, chase down sesuai untuk mengembangkan dribbling terbuka dengan kecepatan, sedangkan sudden death relevan untuk mengembangkan kontrol bola, orientasi visual, dan pengambilan keputusan pada ruang terbatas. Novelty penelitian terletak pada perbandingan dua permainan latihan sederhana sebagai variasi pelatihan dribbling kontekstual pada klub sepak bola lokal. Kata Kunci: chase down, sudden death, dribbling, sepak bola, latihan teknik.
Copyrights © 2024