Suksesi kepemimpinan gereja menjadi isu krusial dalam memastikan kesinambungan pelayanan, stabilitas penggembalaan, dan keberlangsungan misi gereja di tengah dinamika masyarakat modern. Praktik kepemimpinan monarkhi yang menempatkan figur tunggal seringkali menimbulkan tantangan etis dan teologis, terutama ketika transisi kepemimpinan tidak dijalankan secara transparan. Ketidakjelasan prosedur suksesi berpotensi menimbulkan konflik internal dan melemahkan integritas pelayanan gereja. Fenomena ini terlihat pada berbagai kasus gereja yang menghadapi gejolak suksesi akibat minimnya prinsip etis-teologis yang dijadikan pedoman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi etis dan teologis dalam praktik suksesi kepemimpinan gereja berlandaskan penggembalaan monarkhi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dan wawancara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa suksesi kepemimpinan gereja dalam perspektif teologi Alkitabiah menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan prinsip moral dan spiritual. Model penggembalaan monarkhi menawarkan keunggulan dalam kontinuitas pelayanan, namun juga menghadirkan problematika jika praktik suksesi tidak transparan dan adil. kritik teologis terhadap praktik monarkhi menegaskan perlunya pendekatan etis-teologis yang terstruktur untuk memastikan keberlangsungan misi gereja dan integritas penggembalaan.
Copyrights © 2026