Fenomena budaya YOLO (You Only Live Once) mencerminkan cara berpikir generasi muda yang menekankan kebebasan, dan memprioritaskan kenikmatan sementara. Sehingga memunculkan kecemasan akibat kehilangan arah hidup yang diperkuat oleh dominasi teknologi internet, media sosial dan budaya digital. Gereja dan pendidikan Kristen menghadapi tantangan besar untuk menafsirkan ulang nilai hidup di tengah generasi yang haus makna, namun terjebak dalam siklus kepuasan sesaat. Fenomena di kalangan muda menunjukkan perlunya refleksi teologis terhadap nilai Carpe Diem dalam terang iman Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi pemahaman YOLO melalui pembacaan hermeneutik terhadap Pengkhotbah 11:9 agar ditemukan kembali makna spiritual dalam kebebasan hidup. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan hermeneutik dan studi pustaka. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semangat YOLO dalam budaya generasi digital mencerminkan krisis eksistensial yang muncul akibat kehilangan makna hidup dan orientasi spiritual di tengah arus hedonisme dan teknologi. Melalui dekonstruksi teologis terhadap Pengkhotbah 11:9, ditemukan bahwa Carpe Diem sejati bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan sukacita yang dijalani dalam kesadaran akan Allah dan tanggung jawab moral. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pendidikan gereja yang berorientasi pada pembentukan spiritualitas reflektif, ketahanan rohani, dan kebijaksanaan digital bagi generasi muda masa kini.
Copyrights © 2026