Pengabdian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya akses keterampilan praktis bagi remaja putri di wilayah marginal serta adanya sekat primordialisme agama yang sering kali membatasi kolaborasi produktif. Fokus utama kegiatan ini adalah sosialisasi dan pendampingan intensif untuk meningkatkan kreativitas serta keterampilan life-skills remaja putri lintas agama sebagai upaya transformasi sosial-ekonomi. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) yang diintegrasikan dengan Participatory Action Research (PAR), melibatkan 40 peserta dari latar belakang agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Tahapan pengabdian meliputi pemetaan aset (discovery), pembangunan visi (dream), perancangan aksi (design), hingga tahap keberlanjutan (destiny). Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan teknis peserta, khususnya dalam literasi digital dan kriya ekonomi kreatif berbasis limbah. Secara sosiologis, program ini berhasil memicu perubahan perilaku berupa peningkatan kepercayaan diri dan munculnya pemimpin lokal muda. Selain itu, terbentuknya komunitas "Griya Kreatif Bhinneka" menjadi pranata sosial baru yang memperkuat kohesi sosial dan moderasi beragama melalui kolaborasi ekonomi produktif. Pengabdian ini menyimpulkan bahwa pemberdayaan ekonomi kreatif yang inklusif merupakan strategi efektif untuk meruntuhkan prasangka antarumat beragama sekaligus membangun kemandirian komunitas di tingkat akar rumput
Copyrights © 2026