Latar belakang: Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap infeksi menular seksual (IMS) dan human immunodeficiency virus/acquired immuno deficiency syndrome (HIV/AIDS) akibat kurangnya akses terhadap informasi kesehatan yang akurat dan edukatif. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi edukatif yang sistematis dan berbasis sekolah guna meningkatkan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi serta pencegahan IMS dan HIV/AIDS. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan IMS serta HIV/AIDS melalui penyuluhan interaktif berbasis sekolah. Metode: Metode pelaksanaan menggunakan desain pre-test dan post-test. Peserta kegiatan sebanyak 50 siswa kelas XI dan XII SMA Negeri 1 Surakarta. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen berupa 10 soal pilihan ganda yang diberikan sebelum dan sesudah penyuluhan. Data dianalisis menggunakan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan rerata skor dari 5,52 ± 1,11 (pre-test) menjadi 9,18 ± 0,75 (post-test). Uji paired t-test menunjukkan perbedaan signifikan (p< 0,000). Sesi diskusi juga menunjukkan antusiasme tinggi dari peserta dan mengungkap adanya miskonsepsi yang umum mengenai HIV/IMS. Kesimpulan: Penyuluhan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta tentang kesehatan reproduksi dan IMS, serta memperkuat sikap positif terhadap pencegahan penyakit menular seksual. Diperlukan perluasan program serupa secara berkelanjutan untuk menjangkau lebih banyak remaja dan mengoptimalkan dampak edukatif dalam jangka panjang. Kata kunci: edukasi berbasis sekolah, HIV/AIDS, infeksi menular seksual, penyuluhan kesehatan, remaja _________________________________________________________________________________ Abstract Background: Adolescents are a vulnerable population with respect to sexually transmitted infections (STIs) and human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS), primarily due to limited access to accurate and comprehensive health information. This condition underscores the need for systematic, school-based educational interventions to enhance adolescents’ understanding of reproductive health and the prevention of STIs and HIV/AIDS. Objective: This program aimed to improve students’ knowledge of reproductive health and the prevention of STIs and HIV/AIDS through interactive, school-based health education. Method: The program employed a pre-test and post-test design without a control group. A total of 50 students in grades XI and XII at SMA Negeri 1 Surakarta participated in the activity. Evaluation was conducted using a 10-item multiple-choice questionnaire administered before and after the educational session. Data were analyzed using a paired t-test, with a significance level set at p < 0.05. Result: The results demonstrated an increase in the mean score from 5.52 ± 1.11 (pre-test) to 9.18 ± 0.75 (post-test). The paired t-test indicated a statistically significant difference (p< 0.001). The discussion session also revealed high participant enthusiasm and identified common misconceptions regarding HIV and STIs. Conclusion: The educational intervention was effective in improving participants’ understanding of reproductive health and STIs, as well as in strengthening positive attitudes toward the prevention of sexually transmitted infections. The expansion of similar programs on a sustained basis is recommended to reach a broader adolescent population and to optimize long-term educational outcomes. Keywords: school-based education, HIV/AIDS, sexually transmitted infections, health education, adolescents
Copyrights © 2026