Sastra metafiksional di perguruan tinggi saat ini berkembang sebagai laboratorium karakter yang menjembatani kecakapan imajinatif dengan kedaulatan subjek di tengah dunia yang kian terfragmentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penggunaan teknik metafiksi dalam karya cerpen mahasiswa sebagai refleksi identitas Generasi Z di tengah kepungan simulakra digital. Metode yang digunakan adalah analisis isi kualitatif terhadap 14 naskah cerpen mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Jambi. Analisis dilakukan dengan menerapkan teori metafiksi Patricia Waugh dan konsep simulakra Jean Baudrillard untuk mengidentifikasi tipologi naratif yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan empat pilar utama pemanfaatan metafiksi oleh mahasiswa: (1) otonomi eksistensial melalui perlawanan tokoh terhadap otoritas penulis; (2) dekonstruksi simulakra yang membongkar mekanisme hiperrealitas digital; (3) eksorsisme trauma sebagai ruang katarsis melalui meta-narasi memori; serta (4) simulasi etika untuk menguji integritas moral di era disrupsi informasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi Generasi Z, metafiksi berfungsi sebagai mekanisme pertahanan eksistensial untuk merebut kembali agensi dan peran sebagai penulis atas narasi hidup mereka sendiri di tengah realitas yang semu
Copyrights © 2026