Asumsi mortalitas yang tepat merupakan fondasi perhitungan premi dan cadangan asuransi jiwa; namun belum ada penelitian yang secara bersamaan menghubungkan pemodelan survival, valuasi aktuaria komprehensif, dan evaluasi kualitas tabel menggunakan TMPI 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisis TMPI 2023 yang diterbitkan BPJS Kesehatan melalui kerangka enam tahap terintegrasi mencakup pemodelan fungsi survival ( ) dan force of mortality ; valuasi anuitas jiwa diskrit dan kontinu ( ); valuasi asuransi jiwa seumur hidup ( ); pembentukan premi bersih berdasarkan prinsip ekuivalens; formulasi nilai tebus; serta perhitungan cadangan prospektif via 2 rekursi Thiele dengan stress test berbasis Actual-to-Expected (A/E) Ratio. Data sekunder TMPI 2023 dianalisis menggunakan Python dengan asumsi suku bunga = 6,00% (BI Rate Desember 2023) dan asumsi UDD (Uniform Distribution of Deaths). Usia harapan hidup perempuan ( = 78,37 tahun) lebih tinggi 4,63 tahun dari laki-laki ( = 73,74 tahun), menghasilkan selisih premi bersih 22,6% (Rp 6.818,78 vs. Rp 8.360,86 per Rp 1.000.000). Evaluasi A/E Ratio 2018-2022 mengungkap excess mortality neonatal yang persisten (puncak 2020: LK=2,76; PR=2,80) dan rata-rata A/E lima tahun di bawah satu untuk kedua gender, mengindikasikan longevity risk sistemik. Stress test menghasilkan deviasi cadangan hingga -5,57% pada tahun polis ke-29, mengonfirmasi bahwa TMPI 2023 tanpa kalibrasi pengalaman aktual cenderung over-reserved jangka panjang namun under-reserved pada usia neonatal, dengan implikasi langsung bagi kecukupan solvabilitas industri asuransi jiwa Indonesia.
Copyrights © 2026