Amfetamin merupakan salah satu napza golongan psikotropika golongan II dengan potensi penyalahgunaan tinggi. Spesimen urine yang menggandung amfetamin banyak digunakan untuk dalam pemeriksaan toksikologi klinik dan forensik. Stabilitas analit selama penyimpanan menjadi faktor kritis terhadap keakuratan hasil. Degradasi senyawa aktif dalam urine dapat terjadi akibat pengaruh mikroorganisme, sehingga diperlukan pengawet alternatif yang aman dan efektif. Kitosan, yang merupakan polimer alami dengan kemampuan antimikroba, memiliki kemungkinan untuk dijadikan pengawet alternatif guna memperpanjang stabilitas amfetamin dalam urine. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kitosan 0% dan 2% dalam mempertahankan stabilitas amfetamin pada spesimen urine pada suhu ruang 25–27 °C dan suhu 2–8 °C selama empat minggu. Metode penelitian ini adalah eksperimen murni (true experimental design) dengan enam kelompok perlakuan dan dua kali pengulangan per kelompok (n=2). Spesimen urine positif amfetamin diperiksa dengan menggunakan rapid test imunokromatografi. Analisis data menggunakan uji Kruskal-Wallis setelah uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi tidak normal (p=0,006). Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antarkelompok perlakuan (p=0.960). Namun, penambahan kitosan 1% dan 2% pada suhu 2–8 °C mampu mempertahankan stabilitas hingga minggu kedua. Sedangkan tanpa dan dengan penambahan kitosan 1% dan 2% pada suhu ruang 25–27 °C hanya stabil hingga 1 minggu. Disimpulkan bahwa penambahan kitosan pada suhu 2–8 °C memperpanjang durasi stabilitas amfetamin di dalam spesimen urine.
Copyrights © 2026