Tantangan globalisasi, lompatan teknologi era Society 5.0, serta krisis eksistensial-moralitas kontemporer menuntut adanya reorientasi radikal-paradigmatik dalam sistem Pendidikan Agama Islam (PAI). Selama ini, PAI dinilai masih terjebak dalam lingkaran patologi akademik yang bersifat formalistik, kognitif-teoretis, dikotomis, dan ahistoris (steril darirealitas zaman). Akibatnya, terjadi diskoneksi antara pemahaman teks keagamaan siswa dengan realitas sosial. Artikel ini bertujuan untuk merumuskan cetak biru (blueprint) rekonstruksi pemikiran PAI demi melahirkan generasi Qur’ani—generasi mutamaddun yang mengintegrasikan ketajaman intelektual (fikir) dan kedalaman spiritual (dzikir). Menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis berbasis studi kepustakaan (library research), penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi PAI wajib menyentuh empat aspek fundamental secara holistik: rekonstruksi filosofis-epistemologis melalui paradigma integrasi-interkoneksi ilmu, rekonstruksi kurikulum berbasis kontekstualisasi isu-isu kontemporer, rekonstruksi metodologis transformatif-dialogis berbasis hermeneutika emansipatoris, serta reorientasi peran pendidik berbasis tekno-pedagogi kemanusiaan. Implikasi dari rekonstruksi ini adalah reposisi PAI dari sekadar transfer pengetahuan verbal-doktriner (transmission of knowledge) menjadi instrumen pembebasan profetik yang hidup, adaptif, dan solutif terhadap dinamika peradaban.
Copyrights © 2026