Penggunaan alat bantu penulisan berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan menengah telah menimbulkan tantangan pedagogis yang signifikan, namun masih sedikit yang diketahui mengenai kesulitan spesifik yang dihadapi siswa saat menggunakan alat-alat tersebut. Studi kasus kualitatif ini mengkaji kesulitan yang dialami oleh delapan siswa kelas XII di SMAN 12 Sinjai, Indonesia, saat menggunakan alat AI seperti ChatGPT, Grammarly, Quillbot, dan Google Translate untuk tugas menulis bahasa Inggris. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik reflektif. Temuan menunjukkan delapan kategori utama kesulitan: (1) ketergantungan berlebihan pada AI, (2) ketidakmampuan mengevaluasi saran AI, (3) penggunaan AI yang tidak efektif untuk koreksi tata bahasa, (4) pemahaman terbatas tentang kemampuan AI, (5) hambatan teknis dan akses, (6) hilangnya suara pribadi, (7) kesulitan mengintegrasikan saran AI, dan (8) ilusi kemajuan. Kesulitan yang paling umum adalah ketergantungan berlebihan, yang dilaporkan oleh kedelapan peserta, dengan para siswa mengungkapkan rasa takut dan panik ketika alat AI tidak dapat diakses. Temuan ini menunjukkan bahwa tanpa intervensi pedagogis yang terstruktur, alat penulisan AI dapat berfungsi sebagai penopang daripada sebagai landasan bagi pembelajaran siswa.
Copyrights © 2026