Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul kehidupan dari air melalui analisis tafsir QS. Al-Anbiyā’ [21]:30 dalam perspektif biologi modern. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan Tafsir Ilmi. Hasil penelitian menyimpulkan adanya evolusi pemahaman yang signifikan; mufasir klasik cenderung memaknai al-mā’ sebagai air hujan atau sperma, sementara mufasir kontemporer memperluas maknanya sebagai zat kimia esensial ($H_2O$) yang menjadi fondasi materi organik dan prasyarat mutlak (conditio sine qua non) bagi seluruh eksistensi biologis. Validitas ilmiah narasi Al-Qur'an divalidasi oleh biologi modern melalui fakta bahwa air merupakan pelarut universal dan komponen utama sitoplasma yang menjaga integritas makromolekul seperti protein dan DNA. Lebih lanjut, ditemukan sinkronisasi antara isyarat saintifik Al-Qur'an dengan teori Primordial Soup yang menempatkan air sebagai medium "rahim" bagi organisme pertama. Secara integratif, kajian ini melahirkan kesadaran baru bahwa air bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan substansi suci yang memikul amanah kehidupan, sehingga konservasi ekosistem air merupakan kewajiban teologis sekaligus ekologis sebagai bentuk ibadah dalam menjaga ciptaan Allah SWT.
Copyrights © 2026