Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk kearifan lokal Batak Toba serta integrasinya dalam kebijakan penanggulangan bencana di Kabupaten Humbang Hasundutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-eksploratif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap 22 informan yang terdiri dari tokoh adat, aparat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepala desa, masyarakat terdampak bencana, dan akademisi. Analisis data menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kearifan lokal Batak Toba seperti marsiadapari, Dalihan Na Tolu, pembacaan tanda-tanda alam, ritual adat, dan larangan membuka hutan adat memiliki peran strategis dalam memperkuat mitigasi, kesiapsiagaan, dan pemulihan bencana berbasis komunitas. Integrasi kearifan lokal dalam kebijakan formal penanggulangan bencana telah berjalan pada tingkat moderat, terutama melalui pelibatan tokoh adat dalam sosialisasi dan koordinasi mitigasi, namun masih menghadapi hambatan berupa minimnya dokumentasi pengetahuan lokal, lemahnya regulasi khusus, dan pergeseran budaya generasi muda. Penelitian ini menghasilkan model integrasi berbasis tiga pilar, yaitu pilar sosial, kebijakan, dan edukasi, yang dapat menjadi alternatif dalam membangun tata kelola penanggulangan bencana yang lebih adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan di Kabupaten Humbang Hasundutan.
Copyrights © 2026