Penelitian ini mengkaji bagaimana perbedaan pasar tradisional dan pasar modern di Kota Medan tercermin secara mendalam melalui pilihan bahasa, pola diglosia, kesadaran ekologi, dan konstruksi identitas sosial-ekonomi pelaku transaksi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi linguistik, observasi dilakukan di tiga lokasi: Indomaret MMTC, Swalayan Maju Bersama MMTC, dan Pasar Tradisional MMTC. Peneliti mengamati dan merekam percakapan antara kasir dan pembeli terkait penggunaan kantong belanja. Data dikumpulkan dari 2 kasir Indomaret, 2 kasir Swalayan Maju Bersama, dan 2 pedagang di pasar tradisional, dengan total 48 tuturan yang dianalisis. Ditemukan bahwa Indomaret tidak lagi menyediakan kantong plastik namun juga tidak menawarkan alternatif pengganti. Swalayan Maju Bersama masih menggunakan kantong plastik putih dan menyediakan tas kain di samping kasir, namun tidak ditawarkan secara aktif kepada pembeli. Pasar tradisional masih menggunakan kantong plastik (kresek) secara bebas. Pola bahasa yang ditemukan mengonfirmasi diglosia berlapis: bahasa Inggris sebagai super-H di supermarket, bahasa Indonesia formal sebagai H, dan bahasa daerah atau informal sebagai L di pasar tradisional.
Copyrights © 2026