Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara struktural manifestasi gaya bahasa Majaz Mursal (metonimi retoris) dalam hadis-hadis kepemimpinan serta mengungkap implikasi politik substantif di balik penggunaan struktur tersebut. Melalui pendekatan kualitatif studi kepustakaan (library research), penelitian ini mengintegrasikan Ilmu Balagah klasik (khususnya Ilmu Bayan) dengan Analisis Wacana Politik Profetik sebagai kerangka interdisipliner. Korpus penelitian dipilih secara purposive sampling dari Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, menghasilkan lima hadis otoritatif yang mewakili lima turunan hubungan logika ('alaqah): Al-Juz'iyyah, Al-Mahalliyyah, Sababiyyah, Al-Kulliyyah, dan Musabbabiyyah. Hasil dekonstruksi tekstual menunjukkan bahwa setiap hadis memiliki indikator pembatas semantik (qarinah) yang secara konsisten menolak pembacaan literal (hakiki). Analisis kritis-argumentatif membuktikan bahwa penggunaan Majaz Mursal dalam wacana politik profetik berfungsi sebagai instrumen kognitif untuk menggeser egosentrisme personal penguasa menuju supremasi sistem hukum, perlindungan hak-hak sipil, dan akuntabilitas publik. Penelitian ini memberikan kontribusi kebaruan berupa paradigma "Metonimi Politis Profetik" yang menjembatani estetika sastra Arab dengan teori konstitusionalisme modern, sekaligus mendekonstruksi pemahaman literalis-radikal atas hadis-hadis pemerintahan.
Copyrights © 2026