Abstract: Guidance and counseling services in schools have a strategic role in supporting the implementation of the Independent Curriculum which emphasizes flexible, student-centered learning, and focuses on character development and mental health of students. However, in practice, the implementation of these services still faces various challenges that hinder the optimization of the role of guidance and counseling teachers in educational units. This study aims to explore the role of guidance and counseling in fostering students’ character, mental well-being, and potential within the framework of the Independent Curriculum. Using a qualitative descriptive approach and literature review method, the study draws on secondary sources such as policy documents, academic journals, and reports from professional organizations. The findings show that implementation remains constrained by issues including an imbalanced counselor-to-student ratio, stigma against counseling, inadequate training, limited facilities, and low technological integration. Furthermore, the role of guidance counselors is not yet fully embedded in project-based learning and the development of the Pancasila Student Profile. The study concludes that adopting an open systems approach in school management, advancing supportive policy reforms, and improving counselor professionalism are essential steps. These efforts will enable guidance and counseling services to become a foundational element in delivering holistic, empowering, and student-centered education. Keywords: Guidance and Counseling; Independent Curriculum; Student Mental Health; Educational Management Abstrak: Layanan bimbingan dan konseling di sekolah memiliki peran strategis dalam mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran yang fleksibel, berpusat pada siswa, dan berorientasi pada pengembangan karakter serta kesehatan mental peserta didik. Namun, dalam praktiknya, implementasi layanan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan yang menghambat optimalisasi peran guru bimbingan dan konseling di satuan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi peran layanan bimbingan dan konseling dalam membina karakter, kesehatan mental, dan pengembangan potensi peserta didik di bawah kebijakan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur yang memanfaatkan sumber-sumber sekunder seperti dokumen kebijakan, jurnal ilmiah, dan laporan organisasi profesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi layanan bimbingan dan konseling masih menghadapi hambatan signifikan, antara lain rasio guru dan siswa yang tidak ideal, stigma terhadap konseling, minimnya pelatihan, keterbatasan fasilitas, serta rendahnya pemanfaatan teknologi. Peran guru bimbingan dan konseling juga belum terintegrasi secara menyeluruh dalam pelaksanaan kurikulum berbasis proyek dan penguatan profil pelajar Pancasila. Kesimpulan dari penelitian ini menekankan perlunya pendekatan sistem terbuka dalam organisasi sekolah, reformasi kebijakan yang mendukung, dan peningkatan profesionalisme guru bimbingan dan konseling agar layanan ini mampu menjadi pilar utama dalam mewujudkan pendidikan yang memerdekakan dan menyejahterakan siswa secara menyeluruh. Kata kunci: Bimbingan dan Konseling; Kurikulum Merdeka; Kesehatan Mental Siswa; Manajemen Pendidikan
Copyrights © 2026