Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) pada budidaya cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan langkah penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Kegiatan Pengabdian ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh petani cabai rawit di Desa Sukoharjo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, serta memberikan pelatihan dan pendampingan melalui sekolah lapang untuk penerapan GAP. Metode yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan diskusi dengan petani untuk mengidentifikasi tantangan utama, seperti serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan kelangkaan pupuk bersubsidi. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa hama dan penyakit merupakan masalah utama pada musim kemarau dan hujan, serta kelangkaan pupuk bersubsidi menjadi kendala dalam meningkatkan produktivitas. Dalam upaya mengatasi masalah ini, petani diberi pelatihan tentang teknik pengelolaan hama terpadu dan penggunaan pupuk organik. Selain itu, kegiatan demonstrasi penerapan GAP menunjukkan bahwa penggunaan metode budidaya yang lebih ramah lingkungan dapat meningkatkan hasil panen. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan dalam penerapan GAP dapat meningkatkan pengetahuan petani tentang pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan, yang pada gilirannya berdampak positif pada produktivitas dan kesejahteraan petani. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan kontribusi penting dalam mendorong adopsi praktik pertanian berkelanjutan di sektor pertanian cabai rawit, khususnya di Desa Sukoharjo.
Copyrights © 2024