penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aksesibilitas lanskap linguistik di Museum Geologi Bandung sebagai ruang edukasi publik yang inklusif, khususnya bagi pengunjung penyandang disabilitas. Lanskap linguistik dipahami sebagai representasi visual bahasa yang hadir di ruang publik dan memiliki fungsi informatif, simbolik, serta edukatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap tanda-tanda linguistik di ruang museum, dokumentasi visual, serta analisis konten terhadap bentuk, bahasa, dan multi modalitas tanda. Hasil penelitian mennjukkan bahwa lanskap linguistik di Museum Geologi Bandung telah berfungsi secara informatif dan edukatif, namun aspek aksesibilitas bagi penyandang disabilitas masih terbatas. Keterbatasan tersebut terlihat pada minimya penggunaan braille, teks berkontras tinggi, bahasa isyarat, serta media audio interaktif. Secara simbolik, penggunaan bahasa Indonesia mendominasi dan mencerminkan identitas nasional, sementara bahasa asing digunakan secara terbatas untuk kebutuhan wisatawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan lanskap linguistik yang inklusif perlu mengintegrasikan prinsip desain universal agar museumdapat berfungsi optimal sebagai ruang pembelajaran publik yang ramah bagi semua pengunjung. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya kebijakan pengelolaan museum berbasis aksesibilitas linguistik dalam mendukung tujuan pendidikan dan inklusi sosial.
Copyrights © 2026