Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terpasang pada Kelompok Batik Natural Art di Giripurwo, Gunungkidul, awalnya ditujukan untuk produksi batik cap, namun berkembang menjadi sumber daya energi bersama bagi masyarakat sekitar saat pemadaman PLN yang terjadi sekitar tiga kali per bulan. Pengabdian ini bertujuan: (1) mengkuantifikasi peran PLTS UMKM sebagai simpul ketahanan energi komunitas, dan (2) mengukur dampak pemeliharaan partisipatif terhadap keberlanjutan sistem. Metode yang digunakan adalah participatory action research (PAR) yang dipadukan dengan kuantifikasi dampak teknis dan sosial. Hasil menunjukkan bahwa pemeliharaan minor dengan pembersihan panel surya dari debu dapat memulihkan sekitar 20% keluaran sistem daya listrik (±1.792 Wh/hari atau setara ±654 kWh/tahun) yang sebelumnya hilang akibat soiling dan rugi resistif. Pada dimensi sosial, sistem melayani sekitar 270 kali pengisian daya telepon genggam warga per tahun dengan otonomi sistem hampir seharian saat pemadaman, menjadikannya infrastruktur energi cadangan komunitas. Penguatan kapasitas teknis menghasilkan 3 sampai dengan 5 anggota yang mampu memelihara sistem secara mandiri. Studi ini menyimpulkan bahwa nilai PLTS UMKM melampaui fungsi produktifnya, dan pemeliharaan partisipatif merupakan prasyarat kuantitatif maupun sosial bagi keberlanjutan ketahanan energi komunitas
Copyrights © 2026