Abstrak: Perkembangan teknologi digital dan dominasi konten global menyebabkan minat generasi muda terhadap bahasa dan budaya lokal semakin berkurang. Selain itu, guru masih menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan media pembelajaran berbasis teknologi yang menarik dan kontekstual, sementara sekolah belum memiliki repositori digital budaya lokal yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan minat siswa terhadap Bahasa Sasak, memperkuat literasi budaya berbasis kearifan lokal, meningkatkan kompetensi guru dalam pengembangan media digital, serta membangun repositori digital cerita rakyat Sasak sebagai sumber belajar berkelanjutan. Metode pelaksanaan meliputi analisis kebutuhan, sosialisasi program, pelatihan guru, workshop digital storytelling bagi siswa, penerapan teknologi melalui pemanfaatan Canva dan CapCut, pendampingan, evaluasi, dan penyusunan strategi keberlanjutan program. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh tahapan program terlaksana dengan baik. Sebanyak 5 guru berhasil dilatih dalam penyusunan storyboard dan produksi media digital, sedangkan 30 siswa terlibat aktif dalam pembuatan digital storytelling berbasis cerita rakyat Sasak. Program menghasilkan 15 video digital storytelling siswa, 5 video pembelajaran guru, digitalisasi 20 cerita rakyat Sasak, serta 1 repositori digital budaya sekolah. Evaluasi menunjukkan peningkatan minat siswa terhadap Bahasa Sasak sebesar 35,7% dan peningkatan kompetensi digital guru secara signifikan. Program ini memberikan dampak positif terhadap pelestarian Bahasa Sasak, peningkatan literasi budaya siswa, penguatan kompetensi digital guru, serta pengembangan sekolah sebagai pusat pelestarian budaya lokal berbasis teknologi yang berkelanjutan.Abstract: The development of digital technology and the dominance of global content have led to a decline in the younger generation’s interest in local languages and cultures. In addition, teachers still face limitations in developing engaging and contextually relevant technology-based learning materials, while schools do not yet have a digital repository of local culture that can be utilized sustainably. This program aims to increase students’ interest in the Sasak language, strengthen cultural literacy based on local wisdom, enhance teachers’ competencies in developing digital media, and build a digital repository of Sasak folktales as a sustainable learning resource. Implementation methods included needs analysis, program outreach, teacher training, digital storytelling workshops for students, technology implementation using Canva and CapCut, mentoring, evaluation, and the development of a program sustainability strategy. The results of the activities showed that all program phases were successfully implemented. A total of 5 teachers were trained in storyboard development and digital media production, while 30 students were actively involved in creating digital storytelling projects based on Sasak folklore. The program produced 15 student digital storytelling videos, 5 teacher instructional videos, the digitization of 20 Sasak folklore stories, and 1 digital repository of school culture. The evaluation showed a 35.7% increase in student interest in the Sasak language and a significant improvement in teachers’ digital competencies. This program has a positive impact on the preservation of the Sasak language, the improvement of students’ cultural literacy, the strengthening of teachers’ digital competencies, and the development of schools as sustainable, technology-based centers for the preservation of local culture.
Copyrights © 2026