Perubahan iklim global yang ditandai oleh peningkatan intensitas dan variabilitas curah hujan telah meningkatkan frekuensi serta keparahan longsor, sehingga menimbulkan tantangan signifikan dalam analisis stabilitas lereng pada bidang teknik sipil. Meskipun berbagai pendekatan geoteknik dan pemetaan berbasis GIS telah digunakan, model yang ada umumnya belum mengintegrasikan skenario iklim masa depan secara sistematis, sehingga ketidakpastian hidrologi jangka panjang belum terakomodasi secara memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peta risiko longsor berbasis perubahan iklim melalui pendekatan kuantitatif terintegrasi. Penelitian dilakukan pada wilayah lereng perbukitan dengan data topografi, geoteknik, curah hujan, dan penggunaan lahan yang dianalisis menggunakan integrasi GIS, Analytical Hierarchy Process (AHP), serta analisis stabilitas lereng berbasis limit equilibrium. Data yang digunakan meliputi parameter tanah hasil uji laboratorium dan data spasial multi-layer yang diproses melalui teknik Multi-Criteria Evaluation. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan sebesar 20% menurunkan nilai Factor of Safety rata-rata hingga 34,9%, sementara sekitar 41% wilayah terklasifikasi dalam zona risiko tinggi. Selain itu, sekitar 70% kejadian longsor teridentifikasi pada lereng dengan kemiringan lebih dari 30°, menunjukkan dominasi faktor geometri lereng dalam ketidakstabilan. Temuan ini menegaskan bahwa perubahan iklim secara signifikan memengaruhi stabilitas lereng dan distribusi risiko longsor. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan model GIS-based climate slope risk mapping yang mengintegrasikan teori stabilitas lereng dan adaptasi perubahan iklim, serta menawarkan implikasi praktis untuk perencanaan tata ruang dan mitigasi risiko berbasis data dalam rekayasa teknik sipil. Abstract Global climate change, characterized by increasing intensity and variability of rainfall, has significantly amplified the frequency and severity of landslides, posing critical challenges for slope stability analysis in civil engineering. Although geotechnical methods and GIS-based mapping approaches have been widely applied, existing models generally lack systematic integration of future climate scenarios, leaving long-term hydrological uncertainty insufficiently addressed. This study aims to develop a climate-based landslide risk map using an integrated quantitative approach. The research was conducted in a hilly slope region using topographic, geotechnical, rainfall, and land-use data, analyzed through the integration of GIS, Analytical Hierarchy Process (AHP), and limit equilibrium-based slope stability analysis. The dataset included laboratory-tested soil parameters and multi-layer spatial data processed using Multi-Criteria Evaluation techniques. The results showed that a 20% increase in rainfall reduced the average Factor of Safety by up to 34.9%, while approximately 41% of the study area was classified as high-risk zones. Furthermore, about 70% of landslide occurrences were associated with slopes exceeding 30°, indicating the dominant role of slope geometry in instability. These findings demonstrate that climate change significantly alters slope stability and the spatial distribution of landslide risk. This study contributes to the advancement of a GIS-based climate slope risk mapping framework integrating slope stability theory and climate adaptation, and provides practical implications for spatial planning and risk mitigation strategies in civil engineering.
Copyrights © 2026