p-Index From 2021 - 2026
0.751
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Dharma Bakti Dinamika
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengelolaan Ekowisata di Kawasan Gili Bidara Hidayatul Amri; Ikroman Alhamzani; Lalu Ibrohim Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 1 No. 01 (2025): Inovasi Inklusif dan Teknologi Tepat Guna untuk Kesejahteraan Sosial
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/p71r7k03

Abstract

Ekowisata memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, terutama di kawasan pesisir seperti Gili Bidara. Namun, pengelolaan ekowisata yang efektif membutuhkan peningkatan kapasitas masyarakat lokal dalam aspek manajemen dan keterampilan terkait. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberdayakan masyarakat melalui pengelolaan ekowisata di kawasan Gili Bidara. Metode yang digunakan adalah pengabdian berbasis partisipasi masyarakat dengan pelatihan manajemen ekowisata dan pengembangan sumber daya manusia melalui workshop keterampilan praktis, seperti pemanduan wisata dan pengelolaan homestay. Selain itu, dilakukan pendampingan langsung untuk mengimplementasikan keterampilan yang telah dipelajari. Hasil utama dari pengabdian ini adalah peningkatan kapasitas masyarakat dalam menjalankan operasional ekowisata secara mandiri, termasuk dalam pemasaran digital dan pengelolaan produk wisata berbasis budaya dan lingkungan lokal. Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah bahwa ekowisata di Gili Bidara dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat berkelanjutan yang mendukung kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Kontribusi penelitian ini memberikan wawasan tentang pentingnya sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta dalam pengembangan ekowisata yang berkelanjutan dan mandiri di kawasan pesisir.
Pendampingan Pembuatan Produk Inovasi Berbasis Kearifan Lokal untuk Desa Lendang Nangka Hidayatul Amri; Lalu Ibrohim Burhan
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Teknologi Tepat Guna Vol. 1 No. 02 (2025): Inovasi Inklusif dan Teknologi Tepat Guna untuk Kesejahteraan Sosial
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/8zyvzy73

Abstract

Pemanfaatan kearifan lokal sebagai dasar pengembangan produk inovatif memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Namun, keterbatasan dalam inovasi produk, pengemasan, serta strategi pemasaran masih menjadi tantangan utama yang menyebabkan daya saing produk lokal rendah di pasar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program pendampingan dalam meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menciptakan produk inovatif berbasis kearifan lokal di Desa Lendang Nangka.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan partisipatif melalui serangkaian tahapan, yaitu identifikasi potensi lokal, pelaksanaan workshop, evaluasi produk, dan pendampingan dalam pemasaran produk. Workshop yang dilaksanakan mencakup pelatihan inovasi desain, teknik pengemasan yang menarik dan higienis, serta strategi pemasaran konvensional dan digital. Evaluasi dilakukan dengan menilai kualitas produk yang dihasilkan serta menganalisis dampak program terhadap pemahaman dan keterampilan peserta.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan ini berhasil meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menciptakan produk dengan nilai jual tinggi dan daya saing lebih baik. Produk berbasis kearifan lokal yang dikembangkan mendapat respons positif dari pasar, terutama karena inovasi dalam desain dan strategi pemasaran.Ke depan, program ini perlu diperluas dengan diversifikasi produk dan optimalisasi pemasaran digital. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan ekonomi berbasis kearifan lokal melalui strategi inovasi produk yang berkelanjutan.
Evaluasi Empiris dan Pemodelan Prediktif Durabilitas Warm Mix Asphalt terhadap Siklus Beku - Cair pada Iklim Dataran Tinggi Hidayatul Amri; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.yt6yw443

Abstract

Isu durabilitas perkerasan jalan pada kondisi iklim ekstrem menjadi krusial seiring meningkatnya frekuensi siklus beku–cair di dataran tinggi, sementara bukti empirik mengenai respons Warm Mix Asphalt (WMA) terhadap fenomena tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara kuantitatif pengaruh siklus beku–cair terhadap durabilitas WMA dan membandingkannya dengan Hot Mix Asphalt (HMA). Studi ini dilaksanakan dengan pendekatan eksperimen laboratorium yang divalidasi data lapangan pada 1–2 lokasi dataran tinggi; sampel lab (n=40; WMA=20, HMA=20) dan core lapangan (n=24) were prepared and tested for physical and mechanical properties (VTM/VMA, ITS, Marshall, dynamic modulus, rutting, fatigue), and predictive models were developed using regression and Random Forest. Hasil menunjukkan bahwa setelah 50 siklus WMA mengalami peningkatan porositas +12.0% (CI95%: 9.1–14.9%) dan VTM +34% (3.8→5.1%), sedangkan HMA masing-masing +6.0% dan +20%; ITS WMA turun 28.0% (600→432 kPa) versus HMA 18.0% (640→525 kPa) (mixed-ANOVA: siklus F(3,32)=45.6, p<0.001; interaksi p=0.009). Laju degradasi ITS per 10 siklus adalah β=−0.056 (WMA) dan β=−0.036 (HMA); median cycles-to-failure 42 (WMA) vs 58 (HMA). Model Random Forest mencapai R²validasi=0.81. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paparan freeze–thaw secara kuantitatif mempercepat penurunan kinerja WMA dibanding HMA; implikasinya adalah perlunya penyesuaian desain mix, inspeksi lebih sering, dan kalibrasi faktor lingkungan dalam kerangka Mechanistic-Empirical untuk perencanaan perkerasan di dataran tinggi. The durability of pavement materials under extreme climatic exposure is a pressing concern; however, empirical evidence on Warm Mix Asphalt (WMA) performance under freeze–thaw cycles in highland environments is scarce. This study aims to assess quantitatively the influence of freeze–thaw cycles on WMA durability and to compare its performance with Hot Mix Asphalt (HMA). A laboratory experiment with field validation was conducted at 1–2 highland sites; laboratory samples (n=40; WMA=20, HMA=20) and field cores (n=24) were tested for physical and mechanical indicators (VTM/VMA, ITS, Marshall stability, dynamic modulus, rutting, fatigue), and predictive models (regression and Random Forest) were developed. Results showed that after 50 cycles WMA exhibited a mean porosity increase of +12.0% (95% CI: 9.1–14.9%) and VTM rise of +34% (3.8→5.1%), while HMA increased +6.0% and +20% respectively; ITS decreased 28.0% for WMA (600→432 kPa) versus 18.0% for HMA (640→525 kPa) (mixed-ANOVA: cycles F(3,32)=45.6, p<0.001; interaction p=0.009). Degradation rates per 10 cycles were β=−0.056 (WMA) and β=−0.036 (HMA); median cycles-to-failure were 42 (WMA) and 58 (HMA). The Random Forest model achieved an R² validation of 0.81. These findings indicate that freeze–thaw exposure substantially accelerates WMA degradation relative to HMA. The implications include the need for mix design adjustments, more frequent inspection regimes, and the incorporation of empirically calibrated environmental damage factors into Mechanistic-Empirical pavement design frameworks.
Pemetaan Risiko Longsor Berbasis Skenario Iklim melalui Integrasi GIS–AHP dan Pemodelan Stabilitas Lereng Hidayatul Amri; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 2 (2026): Desain, Teknologi, dan Inovasi Infrastruktur Tangguh Bencana
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.zdv4tj56

Abstract

Perubahan iklim global yang ditandai oleh peningkatan intensitas dan variabilitas curah hujan telah meningkatkan frekuensi serta keparahan longsor, sehingga menimbulkan tantangan signifikan dalam analisis stabilitas lereng pada bidang teknik sipil. Meskipun berbagai pendekatan geoteknik dan pemetaan berbasis GIS telah digunakan, model yang ada umumnya belum mengintegrasikan skenario iklim masa depan secara sistematis, sehingga ketidakpastian hidrologi jangka panjang belum terakomodasi secara memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peta risiko longsor berbasis perubahan iklim melalui pendekatan kuantitatif terintegrasi. Penelitian dilakukan pada wilayah lereng perbukitan dengan data topografi, geoteknik, curah hujan, dan penggunaan lahan yang dianalisis menggunakan integrasi GIS, Analytical Hierarchy Process (AHP), serta analisis stabilitas lereng berbasis limit equilibrium. Data yang digunakan meliputi parameter tanah hasil uji laboratorium dan data spasial multi-layer yang diproses melalui teknik Multi-Criteria Evaluation. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan sebesar 20% menurunkan nilai Factor of Safety rata-rata hingga 34,9%, sementara sekitar 41% wilayah terklasifikasi dalam zona risiko tinggi. Selain itu, sekitar 70% kejadian longsor teridentifikasi pada lereng dengan kemiringan lebih dari 30°, menunjukkan dominasi faktor geometri lereng dalam ketidakstabilan. Temuan ini menegaskan bahwa perubahan iklim secara signifikan memengaruhi stabilitas lereng dan distribusi risiko longsor. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan model GIS-based climate slope risk mapping yang mengintegrasikan teori stabilitas lereng dan adaptasi perubahan iklim, serta menawarkan implikasi praktis untuk perencanaan tata ruang dan mitigasi risiko berbasis data dalam rekayasa teknik sipil. Abstract Global climate change, characterized by increasing intensity and variability of rainfall, has significantly amplified the frequency and severity of landslides, posing critical challenges for slope stability analysis in civil engineering. Although geotechnical methods and GIS-based mapping approaches have been widely applied, existing models generally lack systematic integration of future climate scenarios, leaving long-term hydrological uncertainty insufficiently addressed. This study aims to develop a climate-based landslide risk map using an integrated quantitative approach. The research was conducted in a hilly slope region using topographic, geotechnical, rainfall, and land-use data, analyzed through the integration of GIS, Analytical Hierarchy Process (AHP), and limit equilibrium-based slope stability analysis. The dataset included laboratory-tested soil parameters and multi-layer spatial data processed using Multi-Criteria Evaluation techniques. The results showed that a 20% increase in rainfall reduced the average Factor of Safety by up to 34.9%, while approximately 41% of the study area was classified as high-risk zones. Furthermore, about 70% of landslide occurrences were associated with slopes exceeding 30°, indicating the dominant role of slope geometry in instability. These findings demonstrate that climate change significantly alters slope stability and the spatial distribution of landslide risk. This study contributes to the advancement of a GIS-based climate slope risk mapping framework integrating slope stability theory and climate adaptation, and provides practical implications for spatial planning and risk mitigation strategies in civil engineering.