Permasalahan sampah plastik di wilayah pesisir memerlukan intervensi yang disusun berdasarkan kondisi lokal dan partisipasi masyarakat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memetakan timbulan, komposisi, perilaku penanganan, ketersediaan sarana, hambatan, kebutuhan program, serta kesiapan masyarakat dalam pengelolaan sampah plastik di Desa Gunung Sari, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, sekaligus melaksanakan aksi bersih pesisir dan pelatihan pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block. Pendekatan yang digunakan adalah pengabdian berbasis pemetaan partisipatif, pengukuran sampah selama tujuh hari, identifikasi jenis plastik berdasarkan kode resin, observasi lapangan, edukasi, kerja bakti, pemilahan, dan demonstrasi pembuatan paving block. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan frekuensi, persentase, dan skor rata-rata skala 1-5. Hasil menunjukkan bahwa kawasan pesisir dipandang sebagai lokasi rawan sampah oleh 78 responden (82,98%). Estimasi sampah plastik harian mencapai 7.542,5 gram dengan rata-rata 81,10 gram per formulir, sedangkan pengukuran berulang tujuh hari mencatat 25.607 gram. HDPE merupakan jenis dominan berdasarkan berat, yaitu 8.505 gram (44,30%). Penggunaan kemasan sachet (skor 3,90) dan kantong plastik belanja (3,70) relatif tinggi, sementara pemisahan plastik dari sampah organik masih rendah (2,24). Pembakaran dilaporkan oleh 78 responden (82,98%); tempat sampah terpilah hanya tersedia bagi 8 responden (8,51%) dan bank sampah bagi 2 responden (2,13%). Meskipun demikian, 80 responden (85,11%) bersedia mengikuti pelatihan daur ulang/paving block dan 81 responden (86,17%) bersedia mengikuti kegiatan bersih lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa program pengabdian sesuai dengan kebutuhan masyarakat, tetapi keberlanjutannya memerlukan penguatan pemilahan dari sumber, sarana terpilah, bank sampah, pengangkutan rutin, prosedur keselamatan, dan pengujian mutu paving block.
Copyrights © 2026