Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis yang berdampak pada kualitas kesehatan, kognitif, dan produktivitas jangka panjang anak. Prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6% (2022) menunjukkan perlunya intervensi gizi berbasis pangan lokal yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan mie berbasis ubi jalar dengan kombinasi tepung terigu dan kedelai, menganalisis karakteristik gizi dan organoleptik, serta menentukan formula optimal dan tingkat penerimaan pada anak usia dini. Metode penelitian menggunakan pendekatan eksperimental dengan Mixture D-Optimal (Design Expert 13). Formulasi terdiri dari tepung ubi jalar (20–40%), terigu (50–70%), dan kedelai (5–15%), menghasilkan sepuluh formula yang diuji secara fisikokimia dan organoleptik. Formula optimal diverifikasi dan diuji pada 60 anak. Hasil menunjukkan formula terbaik mengandung tepung ubi ungu 32,67%, kedelai 14,26%, dan terigu 53,06% (desirability 0,633). Kandungan gizinya meliputi karbohidrat 46,78%, protein 11,05%, lemak 3,87%, air 34,94%, abu 1,34%, dan cooking loss 6,88%. Kontribusi terhadap AKG anak usia 1–3 tahun mencapai protein 55,25% dan energi 19,71%. Uji penerimaan menunjukkan tingkat kesukaan tinggi, terutama pada warna dan rasa. Dibandingkan mie komersial, produk ini memiliki kandungan protein lebih tinggi dan lemak lebih rendah, sehingga berpotensi sebagai alternatif pangan fungsional untuk intervensi stunting.
Copyrights © 2026