ABSTRAKPenyebaran global sistem pendidikan terstandar yang didorong oleh lembaga-lembaga internasional seperti UNESCO, Bank Dunia, dan OECD melalui kerangka Education for All (EFA) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4 (SDG 4) telah menimbulkan ketegangan mendalam dengan institusi pendidikan lokal di negara-negara Global South. Artikel ini mengembangkan tinjauan interdisipliner yang mengkaji universalisasi sistem pendidikan dan dampak transformatifnya terhadap institusi pendidikan lokal, dengan mengintegrasikan perspektif sosiologi pendidikan, studi kebijakan pendidikan global, dan teori pembangunan manusia. Penelitian ini didorong oleh pengamatan bahwa agenda pendidikan global yang dominan sering kali beroperasi sebagai proyek hegemonik yang secara sistematis meminggirkan beragam tradisi pendidikan lokal. Dengan menggunakan pendekatan kajian literatur kualitatif sistematis dan analisis sekunder terhadap studi empiris serta dokumen kebijakan, artikel ini mengkaji tiga pertanyaan utama: bagaimana agenda kebijakan pendidikan global merestrukturisasi medan institusional pendidikan lokal; bagaimana berbagai tipe institusi lokal merespons tekanan universalisasi; dan apa konsekuensi transformasi ini bagi pembangunan manusia komunitas yang warisan pendidikannya sedang dipertaruhkan. Dengan mensintesis teori medan Bourdieu, analisis isomorfisme institusional Meyer dan Rowan, serta pendekatan kapabilitas Amartya Sen, penelitian ini mengidentifikasi empat tipologi respons institusional terhadap universalisasi: akomodasi adaptif, resistensi selektif, subordinasi pasif, dan transformasi emansipatif. Kasus Indonesia dengan keragaman tradisi pendidikannya yang luar biasamencakup pesantren, sekolah adat, madrasah, dan sekolah negerimenjadi referensi empiris utama dalam menganalisis dinamika tersebut. Temuan menunjukkan bahwa pembangunan manusia yang sejati memerlukan kerangka tata kelola multikultural yang mengakui dan mendukung keberagaman institusional tradisi pendidikan.
Copyrights © 2026