Rendahnya motivasi belajar siswa masih menjadi persoalan penting dalam pendidikan, terutama pada sekolah di wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan geografis, keterbatasan sumber daya, dan akses layanan pendidikan yang belum merata. Dalam kondisi tersebut, program Bimbingan dan Konseling (BK) perlu dievaluasi secara komprehensif agar mampu menjawab kebutuhan siswa secara tepat, terarah, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling (BK) berbasis model CIPP dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di sekolah yang berada pada konteks kepulauan. Penelitian menggunakan pendekatan evaluatif kualitatif dengan model CIPP yang mencakup komponen context, input, process, dan product. Data dikumpulkan melalui angket, wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, dengan informan meliputi kepala sekolah, guru BK, guru mata pelajaran atau wali kelas, siswa, serta orang tua atau komite sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek context, program BK telah sesuai dengan kebutuhan motivasi belajar siswa, meskipun asesmen kebutuhan dan pelibatan orang tua belum optimal. Pada aspek input, program didukung oleh guru BK yang kompeten, administrasi, jadwal layanan, instrumen dasar, dan ruang BK, tetapi masih terkendala jumlah guru BK, beban kerja, media digital, dan anggaran khusus. Pada aspek process, layanan BK telah berjalan melalui layanan klasikal, individual, kelompok, informasi, monitoring, dan tindak lanjut, namun partisipasi siswa dan kolaborasi eksternal belum merata. Pada aspek product, program BK berdampak positif terhadap semangat belajar, disiplin, penyelesaian tugas, dan persepsi siswa terhadap layanan, meskipun dampak akademik belum signifikan dan belum merata. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model CIPP relevan digunakan untuk mengevaluasi dan mengembangkan layanan BK yang adaptif, berbasis data, dan kontekstual di sekolah kepulauan.
Copyrights © 2026