Gangguan pendengaran sejak masa neonatal dapat menghambat perkembangan bahasa, komunikasi, dan kualitas hidup anak. Skrining dengan otoacoustic emission (OAE) memungkinkan identifikasi awal bayi yang memerlukan evaluasi lanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor risiko gangguan pendengaran pada bayi baru lahir dengan hasil skrining OAE. Penelitian analitik dengan rancangan potong lintang ini melibatkan 109 bayi baru lahir di Kabupaten Badung. Sampel diambil secara consecutive sampling. Variabel yang dianalisis meliputi berat badan lahir, prematuritas, asfiksia, penggunaan obat ototoksik, jenis persalinan, hiperbilirubinemia, dan riwayat keluarga gangguan pendengaran. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Sebanyak 35 bayi (32,1%) memperoleh hasil OAE refer dan 74 bayi (67,9%) memperoleh hasil pass. Berat badan lahir <2.500 g (p=0,001), asfiksia (p=0,006), dan penggunaan obat ototoksik (p=0,014) berhubungan dengan hasil OAE. Pada analisis multivariat, berat badan lahir <2.500 g (OR=4,719; 95% CI: 1,776–12,537; p=0,002) dan asfiksia (OR=10,537; 95% CI: 1,310–84,749; p=0,027) merupakan faktor yang berhubungan secara independen dengan hasil OAE refer. Asfiksia merupakan faktor dengan asosiasi terbesar. Bayi dengan faktor risiko tersebut perlu diprioritaskan untuk skrining pendengaran dan tindak lanjut diagnostik tepat waktu.
Copyrights © 2026