Bencana banjir bandang di Kecamatan Angkola Barat, Tapanuli Selatan, merusak infrastruktur pendidikan dan memicu stresor kuat bagi anak usia sekolah berupa kecemasan serta trauma emosional. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan gangguan psikologis jangka panjang jika tidak segera ditangani melalui intervensi yang tepat. Program PROJIWA ini bertujuan untuk mengoptimalkan kesehatan jiwa dan memulihkan resiliensi mental siswa pasca-bencana banjir. Metode pelaksanaan pengabdian ini menggunakan pendekatan keperawatan jiwa komunitas, tahap awal dilakukan skrining psikososial untuk memetakan tingkat trauma siswa dan melatih kader kesehatan dalam deteksi dini. Intervensi yang diberikan meliputi teknik stabilisasi emosi (grounding 5-4-3-2-1 dan deep breathing), metode therapeutic play, serta psikoedukasi Family-Centered Care bagi orang tua. Evaluasi efektivitas program diukur melalui analisis pre-post test status psikososial pada siswa. Hasil program menunjukkan peningkatan jumlah siswa dengan status psikososial normal dari 94 anak (84,7%) menjadi 101 anak (91,0%). Jumlah siswa pada kategori berisiko gangguan juga berhasil diturunkan dari 17 anak (15,3%) menjadi 10 anak (9,0%). Uji statistik memperoleh nilai p-value = 0,000 (p < 0,05), membuktikan keberhasilan program dalam mereduksi dampak psikologis negatif. Kesimpulannya, program PROJIWA terbukti efektif memulihkan resiliensi mental dan mengatasi masalah dampak psikososial siswa pasca-bencana banjir
Copyrights © 2026