Anak Tidak Sekolah (ATS) merupakan permasalahan krusial dalam lanskap pendidikan dasar di Indonesia yang dipicu oleh keterbatasan ekonomi dan rendahnya orientasi masa depan anak. Di Desa Jatigunting, risiko putus sekolah mencapai puncaknya pada fase transisi menuju SMP dengan tingkat kerentanan mencapai 41%. Oleh karena itu, pengabdian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas edukasi preventif melalui program "Aku, Mimpiku, dan Perjalananku" bagi 44 siswa kelas V dan VI di MI Al-Hidayah. Metode pelaksanaan menggunakan experiential learning yang mencakup ice breaking, pemutaran film inspiratif, dan pembuatan media "Pohon Cita-cita". Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan refleksi pra-pasca kegiatan, untuk kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan positif pada orientasi masa depan siswa. Secara terukur, sebanyak 38 dari 44 siswa berani dan mampu memvisualisasikan cita-citanya secara spesifik. Selain itu, terdapat pergeseran kategori cita-cita dari yang awalnya abstrak dan belum terarah menjadi lebih beragam dan konkret pasca-intervensi. Program ini direkomendasikan sebagai salah satu alternatif model preventif berbasis komunitas untuk membantu meminimalkan risiko anak putus sekolah sejak pendidikan dasar.
Copyrights © 2026